Wednesday, March 29, 2023

Tuesday, August 14, 2018

Welcome, Dear...

Menjelang persalinan waktu itu, entah apa yang terjadi tapi tubuh saya semakin banyak keluhan. Dari awal kehamilan dengan mual muntah yang cukup menyiksa. Makan sedikit, keluar lagi. Jangankan minum susu untuk ibu hamil, makan dengan porsi yang biasa pun harus berjam-jam menghabiskannya dan dituntaskan dengan muntah. Begitu terus hingga sekitar 12 pekan. Nah, melewati masa itu, nafsu makan mulai kembali walau tetap diakhiri dengan muntah. Ya sudahlah, yang penting ada nutrisi masuk untuk Dudut. Walhasil, berat badan terus naik, walau tidak berkorelasi terlalu banyak pada berat badan bayi. Bayi saya termasuk imut, tapi masih dalam batas normal menurut hasil USG dan penjelasan bidan.
Menjelang pekan ke-37, berdasarkan rekomendasi dari bidan, saya memutuskan untuk cuti. Baiklah, ini anak pertama dan pada pekan-pekan ini saya bisa kapan saja melahirkan karena sesungguhnya bayi dalam kandungan sudah siap untuk dilahirkan. Ditambah lagi, keluhan kaki bengkak saya semakin menjadi disertai dengan rasa sakit yang sungguh mengganggu. Ini bukan sekedar urusan estetika karena saya hanya bisa memakai sandal gunung atau sandal jepit. Sepertinya mustahil saya ke kantor berjepit ria.
Tepat tanggal 28 Agustus, saya resmi cuti. Selama cuti, saya habiskan waktu dengan beberes rumah, cuci setrika, dan window online shopping . Ada cita-cita belajar masak tapi nggak kesampaian juga. Huh! Satu-satunya hal penting dan berkorelasi positif dengan kelancaran persalinan adalah mengunduh beberapa video senam untuk memperlancar persalinan daaan mempraktikkannya setiap pagi setelah beberes rumah. Satu hal yang saya rasakan ketika cuti adalah pikiran rileks dan sakit pinggang, kaki dsb hilang. Oh ya, saya juga jadi punya banyak waktu untuk membaca buku terkait persalinan. Buku yang sangat recommended menurut saya ada Persalinan Maryam. Membaca buku ini sungguh membuka pikiran saya untuk lebih rileks dan tidak mengkhawatirkan rasa sakit sebagaimana Bunda Maryam yang melalui proses ini seorang diri dan berserah sepenuhnya pada ketentuan Allah SWT.
Jadwal periksa ke bidan juga berubah menjadi satu kali/ pekan yang entah bagaimana menjadi rentang waktu yang sangat lama. Perjumpaan dengan Dudut meski hanya lewat layar USG adalah saat yang sangat dinanti.
Akhirnya, hari yang dinanti-nanti tiba juga. Setelah satu kali periksa kandungan setelah cuti, tepat pada hari Sabtu, tanggal 9 September 2017, saya merasa badan terutama perut tidak enak. Menurut beberapa teman, rasa ini serupa dengan sakit pre menstruasi, namun berhubung setiap haid saya tidak pernah merasakannya, maka saya pikir itu karena saya perlu istirahat. Berbaringlah saya seharian itu dan ketika akan sholat Maghrib, saya melihat gumpalan merah kecoklatan di cd. Panik. Untunglah suami saya menenangkan dan jurus browsing pun dikeluarkan. Ternyata itu adalah reaksi wajar menjelang persalinan karena mulut rahim mulai terbuka alias ada pembukaan. Malamnya saya masih bisa tidur nyenyak seperti biasa, namun sekitar jam 3 malam, perut bagian bawah terasa sakit walau tidak lama. Saya masih adem ayem di rumah karena sakit perut serupa tadi masih jarang dirasakan dan sakitnya pun masih bisa ditolerir. Saya masih bisa melakukan banyak hal seperti biasa. Begitu terus hingga siang, ketika ibu dan mas datang untuk mengantar saya cek ke Klinik Jannah.
Di klinik, saya diperiksa oleh seorang bidan muda dan beliau menyatakan bahwa saya baru pembukaan dua sempit. Saya disarankan pulang karena kemungkinan besar, waktu melahirkan masih lama. Bisa sekitar dua hari lagi.
Datanglah hari Senin, suami berangkat kerja seperti biasa walau rasa sakit mulai semakin sering tapi hanya sebentar dan masih sangat bisa ditolerir. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa bahkan senam hamil pun masih saya lakukan dengan harapan bisa segera melahirkan. Jeda dan rentang waktu mules, saya hitung dengan aplikasi babybump dan hasilnya masih aman. Sekitar jam 10 ibu datang ke rumah dan suami saya minta pulang untuk mengantar ke klinik. Setelah makan siang, kami berangkat ke klinik. Hampir sama dengan sebelumnya, baru bukaan tiga. Saya diminta pulang lagi. Well, sebagai orang yang belum pernah melahirkan, saya menurut saja walau ternyata ada teman saya yang heran dengan instruksi itu. Biasanya setelah bukaan tiga, meningkat ke bukaan selanjutnya akan lebih cepat. Benar saja, menjelang sholat Maghrib, mules semakin terasa dengan jeda yang semakin dekat.

Setelah sholat Maghrib, dengan menahan mules dan ngeden yang subhanallah luar biasah, berangkatlah kami ke klinik. Rencana melahirkan di klinik tempat kami biasa periksa buyar! Karena Dudut sepertinya sudah tidak sabar untuk keluar. Begitu turun mobil, saya merasakan ada sesuatu pecah di perut. Dugaan saya itu adalah ketuban karena diikuti dengan keluarnya cairan. Pelan-pelan jalan masuk klinik. Setelah periksa tensi dan denyut jantung bayi, alhamdulillah bidan favorit saya sedang praktik hari pertama di klinik tersebut. Mood booster banget yaa. Kepercayaan diri saya untuk melahirkan naik seratus persen! Berikutnya, instruksi yang saya tunggu-tunggu. Bidan periksa bukaan dan beliau bilang, "Kalo kerasa mau ngeden, ngeden aja ya, Neng." Beuh, akhirnya, ngeden lah saya sekuat tenaga dan lahirlah anak kami yang pertama dengan normal dan sempurna. Alhamdulillah...sungguh tidak ada kata yang bisa menggambarkan bahagia dan leganya.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imaaman 

Tuesday, August 15, 2017

Keliatan Keliatan...

Akhir pekan kemarin, saya ke Tangerang untuk mengunjungi keluarga dalam rangka arisan keluarga besar dari babanya suami. Sebenarnya pekan sebelumnya saya dan suami sudah ke Tangerang juga, kali itu dalam rangka mengunjungi emak dan saudara ipar yang habis melahirkan. Walau biasanya kami menjadwalkan (dan menganggarkan hehe) untuk sebulan sekali ke Tangerang, namun berhubung ada jadwal arisan keluarga yang terlupakan oleh suami, jadinya kami perlu kesana lagi. Selain itu, ada bayi dari kakak ipar yang kemarin kami jenguk juga mengalami masalah di pencernaannya sehingga perlu dirawat di NICU, jadi sekalian aja kami jenguk keponakan lagi.

Pekan lalu, kehamilan saya sudah memasuki pekan ke-34 mendekati 35. Selama ini, banyak yang bilang bahwa perut buncit saya nyaris nggak "kelihatan". Kata orang-orang sih, karena ini anak pertama, jadi otot-otot perut masih "kenceng" dan karena saya cukup tinggi. Padahal dalam hati saya sih, berat badan udah naik hampir 20 kilo, masih aja dibilang ga keliatan hamil hehehe. Nah, kemarin itu, dalam perjalanan ke Tangerang, saya mengalami "keajaiban". Waktu naik commuter line, dua kali ada bapak-bapak yang berbaik hati memberikan kursinya untuk saya duduk. Bahkan bapak yang kedua, disuruh berdiri sama penumpang lain untuk memberi duduk pada ibu hamil, yang ternyata itu adalah saya. Wow! Berarti hamil saya udah keliatan sekarang, padahal kemarin itu saya pake baju yang longgar loh. Entah juga, perutkah yang keliatan buncit atau aura ibu hamilnya yang kentara (huahahaha).

Nah, hari ini menurut HPHT, usia kehamilan saya sudah memasuki 35 pekan, yang artinya pekan depan sudah memasuki bulan ke-9. Entahlah ya, tapi pinginnya saya sih, Dudut bisa lahir sempurna dengan persalinan normal yang mudah dan lancar sebelum usia kandungan 40 pekan. Alasan saya sih, supaya Dudut juga ga terlalu besar di dalam kandungan karena kemarin selisih tiga pekan aja, dia udah nambah berat sekitar 600 gram. Masih normal sih, kata Bu Bidan. Pertambahan berat badan saya yang mungkin ga normal ya, padahal saya masih bergelut dengan mual muntah yang bisa datang kapan saja loh. Tapi bagaimanapun, saya bersyukur dianugerahi kehamilan yang ga terlalu "rewel". Walau sebelumnya pernah tiga kali flek, tapi sampai hamil seumur ini, saya masih kuat-kuat aja ngantor, cuci setrika baju, bersihin rumah dsb. Alhamdulillah pokoknya.

Mulai memasuki bulan ke-8 ini, saya sudah diminta periksa rutin ke bidan setiap dua pekan. Inilah rutinitas kami yang sangat saya suka. Saya selalu menanti-nantikan jadwal periksa ini setiap bulannya karena ini waktunya kami "bertemu" Dudut secara visual melalui USG atau audio melalui fetal doppler. Selanjutnya kalau kami diminta "bertemu" setiap dua pekan, we'll be very glad to.

Thursday, July 6, 2017

It's 29 Weeks Day 3

Alhamdulillah, telah lebih dari 7 bulan kami resmi menanti buah hati kami. Berbeda dengan kehamilan di awal, saya mengalami mual muntah yang cukup mengganggu, walau banyak orang yang menanyakan, "Ga mabok ya?" Dalam hati saya, enak banget kalo ga mabok. Ditambah saya punya riwayat sakit lambung alias gastritis alias maag. Tapi memang sebenarnya itu adalah proses yang wajar, karena mual muntah itu pertanda hormon kehamilan (HCG) yang berperan dalam pembentukan plasenta tempat janin bergantung hidup nantinya. Pada fase ini, suami yang harus banyak berkorban karena hobi masaknya harus dihentikan total. Saya nggak tahan mencium aroma masakan apapun di rumah. Kami harus selalu beli makanan dan saya dipaksa makan entah apapun itu yang tersedia.

Setelah mengetes kehamilan pertama kali dan terlihat garis merah dua yang menyatakan saya hamil, kami berkunjung ke klinik terdekat dari rumah kami dan sayangnya hanya terlihat uterus saya membesar tapi baik kantung kehamilan apalagi embrio belum terlihat. Seharusnya saya menahan pipis sebelum USG. Baiklah, kami harus bersabar untuk kembali datang untuk USG pada bulan berikutnya. Bulan berikutnya atau empat pekan kemudian, kami kembali USG dan saya telah siap menahan cairan di dalam kantung kemih, berharap jabang bayi terlihat. Benar saja kata bu bidan, kali ini kantung kehamilan beserta isinya terlihat dengan jelas, alhamdulillaaaah. Rasanya senaaaang banget! Begini ya, rasanya mau punya anak, wah banget rasanya! Means the world!

Kami memutuskan untuk melakukan USG setiap bulan sesuai jadwal periksa, walau USG 2D. Rasanya ada kepuasan tersendiri, bisa melihatnya sebelum launching. Bulan-bulan berikutnya, mulai terlihat tunas-tunas tangan dan kaki. Belum bernyawa tentu, tapi melihatnya diam-diam tumbuh, Ya Allah...indahnyaaa.

Pada USG di bulan keempat, mulai terlihat dia bergerak-gerak. Entah kenapa, suami tiba-tiba dapat ide panggilan untuknya. Mulailah ia kami panggil Dudut. Gerakannya mulai dapat dirasakan pada pekan ke-22. Pertanda bahwa Dudut kami sehat dan aktif.

Marhaban yaa Ramadhan.
Bersamaan dengan Dudut akan memasuki pekan ke-24, bulan Ramadhan tiba. Saya bertekad untuk ikut melaksanakan shaum Ramadhan. Untuk menyiapkan diri menghadapi shaum, amunisi yang saya siapkan adalah minyak zaitun (pure olive oil), madu, susu dengan choco malt, obimin, dan CDR. Alhamdulillah saya kuat hingga 29 hari puasa, hanya nggak kuat berjaga lebih dari jam 10 malam. Puasanya nikmat seakan kami saling menyemangati. Oh ya, jauh hari menjelang Ramadhan, saya dan suami sudah sering mengajaknya ngobrol untuk bersiap menghadapi puasa pertamanya. Percaya atau tidak, yang biasanya ketika lapar, dia banyak gerak, kali ini justru menjelang berbuka dia akan cenderung aktif. Senang betul sepertinya, masya Allah. Sholeh ya, Nak..

Sesuai jadwal periksa pada bulan berikutnya, yang bertepatan dengan akhir Ramadhan dan hari terakhir masuk kantor, bidan langganan kami USG ternyata tidak lagi berdinas di klinik tempat kami biasa periksa. Mulailah kami cari-cari tempat lain dan pilihan jatuh pada salah satu RS swasta di kota kami yang ada obgyn perempuannya. Terus terang saya hanya mau periksa ke sesama perempuan, biasanya bidan dan kali ini obgyn perempuan. Abaikan bahwa bu obgyn telat datang hingga satu setengah jam yang mengakibatkan pasien harus menunggu sangat lama, bu obgyn ini melayani pasiennya dengan sabar dan membuat nyaman, namun sayang waktu yang tersedia hanya sebentar. Setelah dianalisa oleh saya dan suami, rasa nyaman yang diterima dalam pemeriksaan antara dokter (obgyn) dengan bidan, relatif sama. Entah mungkin ini personal sekali tapi ini membuktikan lagi bahwa tidak semua omongan orang itu bisa dipercaya begitu saja. Kualitas dokter dengan bidan sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja ada beberapa tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh dokter seperti operasi cesar. Jadi kalau tidak ada masalah, insya Allah bisa dieksekusi oleh bidan saja yang kabarnya lebih sabar dan telaten menghadapi persalinan.

Pada pekan ke-29 ini, saya mengalami bengkak (edema) di bagian kaki yang cukup mengganggu. Sebenarnya bengkak ini sudah saya alami sejak pekan ke-20 tapi dengan sedikit pijatan dan memosisikan kaki lebih tinggi dari badan, bengkaknya akan hilang. Pekan ke-29 ini, bengkak semakin besar dan perlakuan-perlakuan yang sebelumnya bisa mengurangi bengkak, tidak berlaku lagi. Kaki tetap bengkak. Agak khawatir sebenarnya, tapi alhamdulillah tekanan darah normal jadi tidak ada indikasi keracunan kehamilan. Mudah-mudahan tidak ada yang salah dengan ini ya, hanya indikasi kelebihan cairan di tubuh. Well, mungkin ini memang dinamika kehamilan. Ada pahala di dalamnya jika bersabar, insya Allah. Bagaimanapun, anugerah ini sungguh luar biasa dan alhamdulillah diberi kesempatan menikmatinya.

Eh ya, kami udah mulai beli perlengkapan bayi sejak bulan ke-4. Bukan meremehkan mitos yang bilang, pamali beli perlengkapan bayi sebelum hamilnya 7 bulan tapi lebih kepada mencicil. Bayangkan kalo beli perlengkapan bayi sekaligus, berat kan? Apalagi melihat perlengkapan bayi yang sungguh lucu-lucu itu, bisa bikin kalap, segala dibeli. Mengenai mitos, yakin dan tawakkal aja, bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah dan hanya akan terjadi atas ijin Allah.

Wednesday, February 22, 2017

Merencanakan Kehamilan

Setelah menikah, kami membicarakan berbagai rencana ke depan dalam rumah tangga yang kami jalani. Berhubung usia kami berdua sudah cukup "dewasa" :), maka kami tidak ada rencana menunda untuk memiliki momongan. Dan memang beda rasanya ketika belum menikah dengan setelah menikah (atau baru menikah). Sebelum menikah, tidak terpikirkan oleh saya bahwa kehadiran anak sangat penting dalam sebuah pernikahan. Maksud saya, kebahagiaan pasangan menikah itu "cukup" walau hanya hidup berdua asalkan keduanya saling mencintai dan menyayangi. Ternyata setelah menikah, tema ini tidak lagi seringan dulu. Apalagi dengan faktor U yang saya bilang tadi. Alhamdulillah sih saya punya suami yang super baik, pengertian dan selalu ngademin saya. Baginya, semua sudah diatur oleh Allah Yang Maha Baik. Oke, untuk sejenak saya adem, tapi tetep ya, kalo ngenet ga jauh-jauh yang dicari pasti tentang cara cepat hamil, bayi, dan sejenisnya. Berdasarkan temuan di dunia maya, saya berjodoh dengan ibuhamil.com. Disitu saya menemukan kalkulator masa subur dan diskusi para ibu yang juga sedang mengupayakan kehamilan.


  • Kalkulator masa subur
Cara menggunakan kalkulator ini sangat mudah, terutama bagi perempuan yang siklus haidnya teratur. Tinggal memasukkan hari pertama haid terakhir, siklus, dan interval haid tersebut. Nanti akan muncul kapan masa subur bulan berikutnya. Ini penting untuk mencocokkan kapan sebaiknya berhubungan dengan pasangan agar terjadi pembuahan. 
  • Diskusi
Dalam diskusi ini, saya cenderung pasif. Saya hanya mengintip bagaimana cerita sukses para ibu yang berhasil hamil dan sebaliknya. Dari diskusi ini, saya menemukan berbagai cara untuk meningkatkan kesuburan, mulai dari minum suplemen vitamin E, teh kayu manis, suplemen asam folat, susu ibu hamil dan banyak lagi. 


Hasil bacaan tersebut saya diskusikan dengan suami dan suami cenderung nurut aja. Jadilah kami pernah mengonsumsi teh kayu manis tapi tidak rutin karena saya malas merebusnya. Maafkan. Berdasarkan tips dari seorang teman, saya berkolaborasi dengan suami untuk rutin mengonsumsi suplemen vitamin E dan khusus untuk saya, minum suplemen asam folat dan susu ibu hamil. Masing-masing satu kali dalam sehari. Ikhtiar telah dilakukan, doa pun digencarkan. Merayu-Nya untuk memberikan kami amanah menjadi orang tua.

Sekitar sebulan setelah kami mulai mengonsumsi suplemen tersebut, sekitar dua hari sebelum haid bulan berikutnya, saya merasakan mual muntah terutama setelah makan. Berhubung saya belum mengalami terlambat haid, saya belum mau geer dulu walau sangat berharap agar si tamu bulanan tidak hadir. Benar saja, pada tanggal yang biasanya saya kedatangan tamu, dia tidak datang. Alhamdulillah. Rasanya senang tapi belum lega karena belum melakukan tes sama sekali. Pagi berikutnya, saya coba testpack dan hasilnya, satu garis. Tarik napas panjang dan berpikir, berarti telat. Hingga dua hari kemudian, si tamu masih belum juga datang, saya coba testpack lagi dan hasilnya  nampak garis kedua yang samar. Ketika saya sampaikan pada suami, beliau juga senang tapi agak garing gitu, biasalah laki-laki. Alhamdulillah, insya Allah kami akan menjadi orang tua. Semoga lancar dan kami dapat menjadi orang tua yang amanah. Aamiin.