Thursday, December 3, 2015

Opang vs Go Jek

Dua malam yang lalu saya menonton acara komedi yang dikemas serupa dengan acara serius. Indonesia Lawak Klub (ILK). Setting ruangan dan moderator serta para komentator pun dibuat mirip-mirip dengan acara serius panutannya, Indonesia Lawyers Club (ILC). Saya juga tidak terlalu sering nonton acara ini sebenarnya tapi malam itu, tema yang diangkat adalah Ojek Pangkalan versus Go Jek.

Ojek Pangkalan adalah ojek yang mungkin hadir tidak lama setelah kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Maksud saya, sudah lama ada, seingat saya sih, dari kecil saya sudah familiar dengan yang namanya ojek pangkalan. Walau memang akhir-akhir ini, pengojek yang mangkal semakin banyak karena sepertinya pekerjaan sebagai pengojek ini menjadi solusi bagi beberapa orang yang butuh tambahan penghasilan atau bahkan mereka yang belum punya pekerjaan tetap. Dulu, orang tua murid di sekolah tempat saya mengajar, lebih dari separuhnya bekerja atau mencari "sampingan" sebagai pengojek. 

Beberapa waktu belakangan ini, sekitar Indonesia dihebohkan dengan hadirnya ojek yang bisa dipesan melalui aplikasi. Nama layanan ojek ini adalah Go Jek. Didirikan tahun 2011 oleh dua pemuda keren, Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran. Sepanjang pengetahuan saya, selain mengantar manusia, pengemudi Go Jek bisa juga diminta untuk mengantarkan barang, dokumen serta membelikan barang dari suatu tempat jika dibutuhkan.

Bagi saya, Go Jek ini sungguh keren karena meningkatkan prestise dan pendapatan para pengemudinya. Terbukti, menurut para pengemudinya dan seorang pengemudi yang hadir di acara itu, penghasilan mereka lebih besar berkali-kali dibanding ojek pangkalan atau opang. Selain itu, pengemudi Go Jek juga mengaku bisa belajar banyak hal. Mulai dari mengoperasikan aplikasi, memilih dan membeli barang yang sebelumnya mungkin tidak terpikir untuk membeli hingga mengantarkan dokumen lalu bertemu orang-orang penting yang menantikan dokumennya. Eksklusif, bukan? Jadi, bukan hanya meningkat secara finansial tapi juga secara intelektual. Toh, rejeki bukan sekedar berduit, kan?

Lalu, kenapa sih para opang banyak yang tidak mau beralih menjadi pengemudi Go Jek? Mengingat beberapa keuntungan yang didapat dengan bergabung menjadi pengemudi Go Jek. Kurang lebih begini kesaksian seorang pengemudi ojek pangkalan yang hadir di acara itu ketika ditanya kenapa tidak tertarik menjadi pengemudi Go Jek, "Kalo Go Jek itu kan harus mau jemput-jemput pelanggan yang jauh-jauh tempatnya. Kalo mangkal kan tinggal nunggu giliran, nggak usah kemana-mana bisa sambil baca koran, ngobrol." #gubrak

Well, buat saya semua orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Namun, kemajuan bangsa ini, menjadi tanggung jawab kita semua, bukan? Jika ada orang yang untuk kemajuan dirinya sendiri saja mereka enggan bergerak, bagaimana mereka bisa memajukan bangsa ini? Jadi pengen pasang quotenya Bill Gates, "If you born poor, it's not your mistake. But, if you die poor, it's your mistake."


Wednesday, December 2, 2015

Hubungan Biasa tapi Istimewa

Saya masih ingat, sekitar tahun 90an, angkutan kota atau biasa disingkat angkot di kota saya, memiliki dua orang kru. Kedua kru ini adalah pengemudi dan asistennya. Pada masa itu, saya sering memperhatikan kedua kru ini ketika saya menumpang angkot. Kalau istilah jaman sekarang, kedua kru ini selalu saja memiliki chemistry yang kuat. Pun sekarang, ketika moda transportasi saya pindah ke bis antar kota antar propinsi atau bis AKAP. Chemistry diantara kedua kru bis yang saya tumpangi juga selalu kuat. Hubungan antara kedua kru angkutan ini menarik bagi saya bahkan sejak dulu. 

Sering kali, pengemudi bicara ke asistennya tentang sesuatu secara sekelebat, tidak jelas terdengar atau bahkan sama sekali tidak terdengar, asistennya langsung tanggap bereaksi. Pernah di satu waktu, pengemudi bicara sesuatu entah apa, lalu sang asisten dengan sigap langsung membongkar sesuatu di balik kursi dan bilang, "Habis, ga ada lagi." Entah apa yang ditanyakan pengemudi. Tadi pagi dan ini yang paling sering saya lihat, pengemudi bicara entah apa, lalu asistennya menyodorkan sejumlah uang. Bisa untuk bayar tol, bisa juga untuk bayar tol sekalian ditukar menjadi uang receh sebagai kembalian untuk penumpang. Chemistry ini kelihatan sangat kuat terutama kalau pengemudi dan asisten cenderung pendiam. Ketika asistennya turun dari bis untuk menarik penumpang, pengemudi tahu persis kapan harus menjalankan kendaraannya meski tanpa aba-aba. Walau buru-buru, tapi asistennya tidak pernah ketinggalan, hehe. 

Oh ya, saya pernah melihat juga ketika hubungan ini merenggang. Entah apa masalahnya, sepanjang perjalanan pengemudi terlihat kurang senang pada asistennya. Pengemudi terlihat kesal dan berkali-kali bicara dengan nada dan kata-kata kasar pada asisten. Hasilnya, asisten juga jadi terlihat salah tingkah. Asisten lebih suka berdiam dekat pintu belakang dan hanya sesekali ke depan. 

Mereka tentu merasa saling membutuhkan. Pengemudi tidak mungkin mengambil ongkos dari penumpang atau turun dari bis untuk mengajak penumpang naik bis karena harus mengemudi. Begitu juga sebaliknya, asisten tidak mungkin mengajak penumpang naik bis serta mengambil ongkos kalau pengemudi mogok.

Hubungan ini biasa tapi sebenarnya istimewa. Chemistry yang terbangun di antara kedua profesi ini bagi saya istimewa. Suka sekali saya mengamatinya. This is one of the things that made my day.

Morning!

Monday, November 30, 2015

Lumrah tapi (Ternyata) Salah

Anak kecil jaman sekarang beda ya, dengan anak kecil jaman kita kecil dulu? Anak sekarang itu lebih pecicilan dan cerewet. Ciri-ciri anak sehat katanya emang gitu. Senang bergerak dan melakukan hal-hal yang menarik buatnya. Ya lah, semua anak kan memang melihat dunia sebagai tempat mereka bermain. The world is a playground and everytime is also play time. Some of us as an adult also think the same way, do we? Hayo ngaku! Cuma bedanya, kita sebagai orang dewasa sudah terbentuk oleh norma-norma, pendidikan, persepsi, dan tanggung jawab sehingga keinginan untuk bermain itu tentu berkurang, sedikit demi sedikit. Namun jika keinginan itu "disentil" sedikit, maka jangan ditanya!

Nah, dalam proses bermain itu, pasti ada kan saatnya si anak udah dibilangin berkali-kali masih ngeyel, trus jatuh, terluka, nangis. Lalu biasanya (dari pengalaman dan pengamatan saya), orang tua di sekitarnya bereaksi kesal dan balik marah ke si anak itu. Saya ingat ketika di sekolah saya dulu, ada teman guru yang ngajak anaknya ke sekolah. Si anak ini perempuan, usia 2 tahunan, aktif seperti anak-anak lain seumurnya lah. Tiba saat ketika anaknya jatuh, terluka dan nangis. Ibunya sibuk marahin anaknya sambil teriak-teriak. Di saat yang sama, kami semua menoleh ke arah si ibu. Ada apakah? Kenapa heboh sangat?

Di saat yang sama, teman saya yang lain yang ada di dekatnya, berbalik menegur si ibu.
"Anaknya udah sakit itu badannya karena jatuh. Jangan dibikin sakit juga hatinya karena dimarahi." Bicaranya santai, tapi dalem.

It's a slap moment. Selama ini, saya pikir reaksi seperti itu adalah hal yang lumrah. Padahal sungguh hal itu menyakiti perasaan si anak. Dia mungkin suatu hari akan lupa dan mengabaikan "marahnya" si ibu tapi bentakan akan menetap di alam bawah sadarnya. Efeknya, bisa jadi dia malah jadi anak yang ignorance dan tidak bisa diingatkan kecuali dengan cara dibentak. Teman saya yang menegur tadi itu memang tidak pernah saya lihat menegur anaknya dengan cara yang keras, padahal saya lumayan sering berinteraksi dengan keluarganya. Walhasil, dua anaknya berperangai halus dan mudah diarahkan. Ini kisah nyata.

Saya punya empat keponakan yang super duper juga dan saya ingat terus kata-kata teman saya ini. Ketika para krucils berkunjung ke rumah yangtinya yang adalah ibu saya, saya berusaha untuk tidak menegur dengan keras apalagi ketika mereka sudah tersakiti sebelumnya meski akibat perbuatan mereka sendiri. Badan boleh sakit tapi toh akan segera pulih.

Friday, November 27, 2015

Wake Up Call

Cuma mau bilang gini...

“Kalau memang terlihat rumit, lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. 

Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apapun, dan keindahan yang apa adanya.” 

Bukan saya sih, yang bilang. Itu quotenya Bang Tere di novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" and I couldn't agree more.

That's it... 




Thursday, November 26, 2015

Hujan

Siang ini Serang tidak sepanas biasanya. Sudah mulai masuk musim hujan mungkin. Mendung.

Kata teman saya, "Sudah bisa nyanyi November Rain ya?"
Saya bilang, "Boleh aja, tapi disini rainnya masih malu-malu. Mungkin disini nanti lagunya ganti judul dulu jadi December Rain."

Sejak kecil saya selalu suka hujan. Sering sembunyi-sembunyi main hujan. Pulang ke rumah mindik-mindik, kuatir dimarahi karena hujan-hujanan. Suka juga ketika pulang sekolah dan hari hujan. Sengaja lewat jalan terjauh untuk sampai ke rumah, 'melupakan' payung di dalam tas yang telah dengan susah payah dibelikan ibu. Lain lagi kalau berangkat sekolah dengan bersepeda. Itu lebih menyenangkan lagi. Nggak mungkin kan bersepeda sambil memegang payung? 
Bersenda gurau dengan teman-teman yang juga 'melupakan' jemputan becaknya. Ikut berjalan kaki hingga di tengah perjalanan baru naik becak dengan pakaian, sepatu, dan tas basah kuyup. Entah seperti apa rupa buku-buku di dalam tas. Tertawa-tawa sambil saling meledek. Masih enggan pulang karena betah bermain hujan.

Bagi saya, main hujan di waktu kecil itu menyenangkan karena ketika sampai rumah, sudah tersedia secangkir minuman hangat. Bisa susu coklat atau teh manis buatan ibu. Jika pulang sekolah hujan dan itu hari Sabtu, maka yang terjadi justru sebaliknya. Saya memilih tidak buru-buru pulang. Menunggu bapak menjemput di depan sekolah sambil membawa payung. Walau tidak kehujanan, di rumah tetap menanti secangkir minuman hangat.

Akhir-akhir ini, hujan semakin jarang datang. Kata orang, alam sudah tidak bersahabat lagi dengan manusia. Mungkin yang terjadi adalah sebaliknya. Manusia yang semakin banyak jumlahnya, semakin hobi pula menyulut kerusuhan dengan alam.

Oh ya, ini kata teman saya yang lain. Hujan adalah satu persen kenangan dan sisanya yang 99% adalah mi rebus ditambah telur dan cabe rawit.

Cheers!