Showing posts with label menanti rahasia_Nya untukku.... Show all posts
Showing posts with label menanti rahasia_Nya untukku.... Show all posts

Thursday, February 16, 2017

Beginilah Kami Mempersiapkannya

Sekedar berbagi mengenai persiapan pernikahan tanggal 4 September tahun lalu. Kami tidak melalui proses yang namanya pacaran, walau kami bekerja di gedung yang sama. Namun kami memutuskan untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan pernikahan by ourselves. Mulai dari cari-cari tempat, vendor katering, vendor dekorasi dsb. 

1. Tempat. 

Berhubung kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan tidak di rumah saya sebagai mempelai wanita karena satu dan lain hal karena memang sih dari dulu juga saya bercita-cita tidak melangsungkan akad apalagi resepsi di rumah karena terbayang repotnya bahkan hingga setelah acara berlangsung. Maka, mulailah saya hunting tempat di Cilegon yang diperkirakan masuk budget kami dan hasilnyaaa...semua penuh! Sepertinya saat itu memang musim menikah. Bahkan ada yang hingga pertengahan tahun depan. Beralihlah kami ke kota sebelah, Serangyang mana merupakan kota tempat kami bekerja. Tujuan utama adalah sebuah aula Masjid Baitush Sholihin di Jalan Bhayangkara dan alhamdulillah, pada waktu yang diinginkan tempat tersebut tersedia. Lega. Satu bisul pecah!

2. Dekorasi dsb.

Berikutnya, cari-cari dekorasi yang berkorelasi dengan kostum, make up dan sebagainya. Adik ipar menawarkan temannya yang sebenarnya sih sudah dengan harga yang bagus, tapi berhubung ada yang menawarkan dengan harga yang lebih murah, maka pakailah yang terakhir. Pertimbangannya, dekorasi bukanlah hal yang vital. Lebih baik menghabiskan lebih banyak dana untuk katering dan makanan lain. Pilihan yang pada akhirnya tidak kami sesali walau sejujurnya, saya kurang puas dengan vendor dekorasi ini karena di tengah-tengah menjelang hari-H, banyak inkonsistensi. Beberapa item yang telah disepakati di awal kemudian dikurangi. Kecewa sih tapi mau bagaimana lagi, uang muka sudah disetorkan dan saya sudah terlanjur ga enak sama teman yang menghubungkan. Ya sudah, lanjut walau dengan perasaan kurang sreg. 

3. Katering

Bagian ini yang paling memuaskan. Kami menggunakan jasa Prima Catering. Ini ternyata adalah kateringnya Dharma Wanita RS. Krakatau Medika. Mas marketingnya ramah dan informatif. Sejak awal saya hubungi via WhatsApp, beliau selalu bersegera membalas dan menjawab lebih dari yang saya butuhkan. Pokoknya kesan pertama begitu meyakinkan deh. Harga yang ditawarkan juga pas ga mahal-mahal. Setelah saya komunikasikan dengan calon (waktu itu), beliau pun ga keberatan. Apalagi, si mas marketing juga menawarkan kalau sebagian pembayaran bisa dilakukan setelah acara. Mengenai lokasi, pihak katering juga tidak berkeberatan untuk mengantar ke Serang. Alhamdulillah. Ketika menjelang pernikahan, dekorasi katering ini juga cantik dan lebih cepat selesai dibanding dekorasi utamanya. Pendek kata, pelayanan katering ini sangat memuaskan. Saya masih nyimpan kontak si mas marketing kalau-kalau ada yang butuh.

4. Souvenir

Ini printilan yang mau ga mau harus ada. Saya cari souvenir ini di Tokopedia dan hasilnya banyak sekali pilihan. Barangnya lucu-lucu, murah, dan menarik. Kami memutuskan menyiapkan souvenir berupa kipas kertas dan sedikit sisa souvenir dari pengajian di rumah berupa taplak meja plastik. Ini hanya semacam formalitas sebenarnya tapi lega aja ketika semua hal telah siap.

5. Undangan

Saya ga terlalu banyak campur tangan urusan ini. Kami memesan di salah satu teman yang memiliki percetakan. Setelah beberapa kali revisi, menjelang hari-H, jadilah surat undangan dan siap sebar.

6. KUA

Pernikahan kami dilangsungkan di Serang, maka kami berdua statusnya numpang nikah. Saya agak lupa, apa saja yang dibutuhkan untuk mengurus surat numpang nikah, tapi alurnya saya ke Pak RT atau perwakilannya untuk mengurus surat pengantar. Disini saya ga pake berkas sama sekali. Bawa diri aja, apalagi perwakilan RT waktu itu adalah orang tua murid saya. Malam itu juga, surat pengantar langsung jadi dan besoknya saya bawa ke kantor Kelurahan untuk dibuatkan pernyataaan bahwa saya adalah warga kelurahan tersebut dan masih perawan (ihiy!) alias belum pernah menikah. Gratis! Berkas yang saya bawa, surat pengantar dari RT, fotokopi KTP, KK, dan foto kalo ga salah. Nah, dari sini saya lanjut ke KUA. Karena sudah siang, pejabat yang menandatangani sudah pulang, jadi saya mesti kembali besoknya. Hari esoknya, ketika saya kembali, surat sudah jadi, tapi saya mesti menunggu kepala KUA untuk diajak "ngobrol". Singkat cerita, beres aja ya. Tinggal ngurus surat nikah di KUA tempat nikah. Ini mah urusan calon saya.

Begitulah pengalaman saya dalam mempersiapkan pernikahan kami yang mudah-mudahan sekali seumur hidup. Semoga bermanfaat terutama untuk yang akan melangsungkan pernikahan di sekitar kota saya.

Wednesday, October 19, 2016

New Chapter Begins..

Long time no see...!
Where am I? 
Saya disini aja, ga kemana-mana. Modif alamat blog dikit to escape from someone, ngantor seperti biasa, ikut diklat prajabatan, dan nyiapin pernikahan. Alhamdulillah. Tapi malah agak-agak frustasi kalo ditanya keluarga, "Udah sampe mana persiapannya?"
Padahal dulu sebelum nikah nggak pernah frustasi kalo ditanya sama siapa aja, "Kapan nikah?"

So, the new chapter called, marriage.
Akhirnya? Ya, bisa dibilang gitu dan memang betul, yang namanya jodoh itu mungkin mirip sama takdir lain yang nggak bisa ditebak. Di awal tahun ini, saya bercita-cita saja tidak untuk menikah. Baru saja ngobrol sama seorang teman via telegram bahwa saya dan dia tidak memasukkan hal itu sebagai targetan kami. To tell the truth, ga pernah juga memasukkan itu ke dalam target saya sejaaaak berapa tahun yang lalu ya? Ah, lupa! Bukan apa-apa sih, semakin lama semakin menganggap bahwa yang penting berusaha keras dalam apa yang sedang dikerjakan dan selebihnya let it flow aja.  Pesimis? Mungkin, tapi setelah banyak hal yang terjadi dalam kehidupan di keluarga dan kok rasanya ada saja yang makin kusut and it's all not because of me litterally, tapi ulah orang lain jadi ya sudahlah, tahapan "menikah" itu dilewat dulu saja. Membuka diri dan membuka peluang sih tetap, walau lebih sering kecewanya hingga berujung pada kebal sama yang namanya kecewa. Jadinya setiap ada yang berusaha 'mengenalkan' pada seseorang, mikirnya nothing to lose aja. 

Singkat cerita, proses ini bermula pada pekan ketiga bulan Maret 2016, via WhatsApp hingga akad nikah di awal bulan September 2016. Ketika saya disandingkan dengannya setelah akad nikah dilantunkan, terlintas pikiran, "Hah! Udah nih saya jadi istri orang?"
Semudah itu, benar saja jika Allah menghendaki. Setelah melalui proses yang cukup membuat perasaan tak menentu, tidur tak nyenyak, tabungan habis (hehe), pada akhirnya, acara akad dan resepsi pernikahan yang alhamdulillah memuaskan bagi kami. Sebagian besar keluarga, saudara, dan teman-teman datang memberikan doa dan restu bagi kami. Baarakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khairin. Bahagia, tentu. Alhamdulillah. So, this is the beginning of our life journey and the end of something else. Semoga keberkahan meliputi kami di awal hingga akhir nanti. Grow old together. Aamiin.

Monday, March 14, 2016

It's (Not) Always Better Late Than Never

The anonymous quote said that it's better late than never for many things or occasion in life.
For example, attending an exam in your life. It's better you came late with all sweat because you have to run climb up the stairs plus worrying whether the rooms supervisor letting you in or not. You answer his or her question nervously and maybe you suddenly become a stutter. The suggestion is, try your best to attend the exam. Even though you have to lose your minutes for doing the exam. Still, you have the chance to pass the exam. It's still better than you never attend it. I've been there anyway.

Another example for something better than never is, when you are not young anymore and you want to continue your study. For this case, it's best decision people ever made in their life. You're never too old to learn. Learning some knowledge makes you stay young forever. People said that. I will prove it one day, hopefully.

There's nothing absolute in this world anyway. The A result for one case could be resulted B, C, even X, Y, Z. In other word, the result could be totally different in other case. There's nothing absolute.
So, it's not always better late than never but sometimes, it's better never than late. Like wedding vow I've heard in some movies, "...if you have something to be told. Say it now, or be silent forever".

The decision is yours. Enjoy every step of it.

Friday, March 11, 2016

Morning!

Another rainy morning in a bus, with jazzy bus singer and the last song I wanna hear on earth.
Well anyway, life helps you in an unexpected nice ways.

Thursday, March 10, 2016

Life Begins At Forty

It's one of my friend's birthday. It's her forty this year. In my perspective, she has perfect forty birthday. Let me tell you, years ago, she told me her dream of having her own pharmacy. Now, she has a pharmacy all by her own. She funded, designed, and served it herself. She made an outstanding decision less than a year ago to resigned from her workplace then build her own. There are not many people who realize their dreams like her. Many people dare to dream, but don't dare to share the dreams. They're afraid of the obstacle and threat they might face. Who doesn't?

Another thing to complete her forty birthday, she went to Makkah to do umrah last month and went to Japan as her gift of freedom. That's my words, not hers.

This morning, I greet her and she (again) opened my eyes that the number of age is just a number nothing else. It's a symbol that we have been living so (or too) long until the number achieved. It's a symbol that all dreams and wills passed by. Some are achieved and some are not. Hopes still are hanging around, I believe. Anyway, it's just a number. Nothing should be compare about. Some important things for us, maybe aren't at all to others and vice versa. Life is not a race.

Tuesday, March 8, 2016

It's Not Always What It May Seem

This morning, the rain came again, after maybe a week without. Miss it? Surely do. You always get the feeling that it will come again and wet the land. Since it didn't come for so long - for me, a week is so long for longing something (or someone?). You thought it wouldn't come again for a year or so, but then it comes suddenly. Without any notice and it makes you happy, as always. It blew away all my longing feeling.

In some cases in life, no matter how hard trying to make yourself busy, it still needs much effort to getaway from things you actually miss but for some best reasons, you have to leave. When the phone rang and the messages came, it would be like thousands of tons of power forcing you to answer or reply. Still, those best reasons win and they suppose to win the battle. So, collecting those reasons is something you have to work on when you committed for a getaway.

Thursday, March 3, 2016

Blame All To The Weatherman

Hohoho, that was just a title. Only title. Nothing more.
Today, oh no, since last night. The hot news are talking by everyone in the office.
As usual, I only give serious opinion in the group of my closest friends.
In other groups, I only make joke responds.

As a conclusion, well, nothing can be well-handled by people who are not good in it.

Saturday, February 13, 2016

Resensi Novel "Hujan"

Tentang persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan

Novel ini, seperti juga beberapa novel lain karangan Tere Liye, berkisah tentang cinta sebagai benang merahnya. Sebenarnya saya beli novel ini karena saya sangat suka hujan. Selalu.

Bersetting di sebuah kota negara tropis, di masa depan. Tahun 2042 dan setelahnya. Dideskripsikan dunia sudah serba modern. Futuristik. Ada alat komunikasi yang ditanam di lengan, kereta cepat listrik bawah tanah, dan berbagai hal modern lainnya. Keren.

Diawali dengan pagi yang sibuk, kembali masuk sekolah setelah libur panjang. Dikisahkan beberapa orang terburu-buru karena terancam terlambat hari itu. Begitupun seorang gadis bernama Lail yang saat itu baru berumur 13 tahun. Bersamaan dengan pada hari itu juga lahirlah penduduk bumi yang ke sepuluh miliar! Daaaan...pada hari itu juga terjadilah peristiwa besar yang mengubah segalanya. Meletusnya sebuah gunung purba yang menghancurkan benua dalam hitungan detik karena getaran dahsyat gempa vulkaniknya. Begitu pun kota Lail. Pada kejadian itu, Lail kehilangan ibu dan ayahnya sekaligus. Namun, Lail menemukan Esok. Seorang anak laki-laki umur lima belas tahun yang menyelamatkan Lail di lubang kereta bawah tanah. Di kemudian hari, lubang kereta bawah tanah itu yang menjadi tempat bersejarah bagi mereka berdua. Lail kehilangan ibunya dan Esok kehilangan empat kakaknya disana.

Sejak itu hingga keadaan kota menjadi lebih baik, mereka tinggal di tenda pengungsian dan Esok secara tidak langsung mengajarkan Lail untuk melanjutkan hidup meski tanpa kedua orang tuanya. Setahun kemudian, kota pulih dan warga mulai menjalankan hidup mereka dengan lebih normal. Lail tinggal di panti sosial dan bertemu dengan Maryam. Seorang anak perempuan berambut kribo yang selalu ceria. Maryam telah menjadi yatim piatu bahkan sebelum musibah gunung meletus itu terjadi. Lail dan Maryam segera menjadi sahabat baik yang saling mengerti satu sama lain, bahkan tanpa perlu bicara. Persahabatan yang mengharukan. Lail memperoleh kehidupan yang menyenangkan bersama Maryam di panti sosial. Begitu pun Esok yang diadopsi oleh keluarga Wali Kota dan Wali Kota yang baik itu pun membangun kembali toko kue ibu Esok yang hancur ketika musibah itu terjadi.

Kisah berlanjut. Akibat musibah gunung meletus itu, kondisi bumi tidak lagi sama. Abu vulkanik yang membumbung hingga lapisan stratosfer bumi, menjadikan cuaca di bumi tidak normal. Lebih banyak gelap, hujan, dan badai. Terutama di negara-negara subtropis, hingga dimulailah bencana itu, ketika negara-negara subtropis mencoba menyelamatkan warganya dengan menyemprotkan gas ke lapisan stratosfer bumi. Hasilnya, musim dingin ekstrem terjadi di negara tropis, bahkan hadir salju yang merupakan hal yang tentu saja mustahil. Stok makanan menipis karena panen gagal dimana-mana.

Sejalan dengan kondisi bumi yang semakin memprihatinkan, begitu pun hubungan Lail dan Esok. Meski keduanya disibukkan oleh kegiatan masing-masing, Lail dengan sekolah, kegiatan panti, dan menjadi relawan serta Esok yang kuliah di Ibu Kota dan mengerjakan proyek besar, namun dalam pikiran dan hati Lail, selalu ada Esok. Esok lebih dari seorang kakak laki-laki buat Lail, namun apakah Esok juga merasakan hal yang sama dengannya? Lail selalu bertanya-tanya.

Novel ini adalah tentang bagaimana seseorang memeluk erat-erat kenangan di dalam hati dan pikirannya. Menerimanya sebagai bagian dalam hidup, meski itu berat. Walau suatu saat nanti mungkin akan ada teknologi yang memungkinkan manusia melupakan kenangan tertentu yang tidak ingin diingat, namun sesungguhnya, kenangan dan kejadian-kejadian itulah yang membentuk manusia menjadi seperti apa ia saat ini. Kesedihan, trauma, patah hati, kesalahan, semua orang pernah mengalami. You're not alone. Semua orang punya kisahnya sendiri.

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, maka dia tidak akan bisa melupakan." 

Saturday, January 23, 2016

Antara Pilihan dan Takdir (2)

Pilihan lainnya adalah cinta. Halah, berat amat ngomongin cinta! Oke, jangan ditimpukin dulu. Baca dulu, kalo ternyata ecek-ecek nyebelin, boleh lah timpuk saya. Pakai lembaran kertas yang ada gambar I Gusti Ngurah Rai atau para proklamator ya.

Sebagai pembuka, saya hendak mengutip kata-kata Mbah Sujiwo Tejo,
"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa."

Menurut saya, baik mencintai atau menikah, keduanya adalah pilihan yang kemudian menjadi takdir. Jangan bilang gini, "Emang udah takdirnya saya punya suami atau istri yang begini begitu, bla bla bla." Atau ada orang yang tidak setia dengan alasan mencintai orang lain atau bahkan tidak (lagi) mencintai pasangannya. Mencintai atau tidak, bukan alasan untuk tidak setia.

Takdir itu pada hakikatnya adalah buah dari keputusan atas pilihan-pilihan kita. Begitu pula dalam urusan cinta. Bisa nggak kita berencana kejatuhan cinta? Mungkin nggak, seperti kata banyak orang dan yang sering juga kita saksikan di banyak film, baca dalam cerita novel, atau alami sendiri. Cinta itu datang tiba-tiba, mirip-mirip dengan jelangkung. Datang tak diundang, tapi repotnya, perginya si cinta ini sering kali bahkan sudah diantar, diusir, tetap nggak mau pergi juga, malah semakin lekat di ingatan. Eh, curcol, maap!

Peristiwa kejatuhan cinta atau biasa disebut jatuh cinta, mungkin memang tidak bisa direncanakan, namun pilihan untuk tetap membersamai cinta itu atau meninggalkannya, itu adalah pilihan. Apalagi jika cinta itu terlihat rumit dan tidak jelas arahnya, serba kabur. Maka lupakanlah, itu bukan cinta sejati.

Melupakan cinta, itu perkara lain. Teorinya, jika tidak jelas, rumit lalu lupakan. Praktiknya, tentu tidak semudah itu. Ingatan itu unik. Semakin berusaha dilupakan, maka semakin lincah dia bermain-main di memori. Paling mungkin, alihkan ke ingatan lain atau sekalian eksplorasi menjadi novel, puisi, lagu atau apalah yang berbuah keuntungan. Bagi saya, hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, tinggal perkara mau atau tidak. Nah, memilih mau atau tidak, itu hak prerogatif. Perkara kemudian ada banyak faktor yang membuat proses move on itu tidak mudah, ya kembali pada keputusan untuk mau atau tidak. Sekali bergerak maju, tidak boleh sering-sering melihat ke belakang. Perasaan dan ingatan itu kadang menipu dan melenakan.

Friday, January 22, 2016

Antara Pilihan dan Takdir

Manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya. Klise ya? Semua orang juga tahu itu. Lah, emang saya juga nggak sedang berusaha membuat teori baru dalam kehidupan kok, haha. Siapa diri kita, bagaimana hidup kita, itu adalah hasil dari banyak pilihan yang telah kita buat. Sekolah yang kita pilih, jurusan kuliah yang kita atau orang sekitar kita pilihkan untuk kita, pekerjaan yang kita jalani sekarang, bahkan kepribadian kita, itu pun hasil dari pilihan kita. Hal sederhana seperti datang jam berapa kita ke tempat kerja atau ke sekolah itu juga bentuk pilihan. Bagi sebagian orang, memilih berolahraga dan menjalani pola hidup sehat, itu pun pilihan. Adapun ketika kita sudah memilih untuk menjalani pola hidup sehat dengan maksud supaya sehat tapi ternyata tetap sakit juga, itu adalah takdir. 

Saya membuka percakapan sederhana dengan seorang teman beberapa hari yang lalu tentang pilihan atau takdir ini. Dalam kehidupan yang relatif singkat ini, kita cenderung dihadapkan pada berbagai pilihan yang sering kali memusingkan kepala dan membuat galau. Pilihan kadang juga melibatkan orang lain tentu saja, terutama jika keputusan dari pilihan itu akan berpengaruh juga ke orang-orang terdekat kita. Let's say, sekolah. Kalau dipikir pendek, "Saya ini yang sekolah, saya  yang menjalani. Nanti yang jadi pinter atau tetap bodoh juga saya." Oke, pikiran kayak gitu ada benarnya, tapi nggak sepenuhnya benar. Pendidikan itu berpengaruh pada pekerjaan kita di masa depan. Kita sebagai orang Indonesia yang biasa-biasa saja secara ekonomi, tentu suatu saat akan harus mencari pekerjaan untuk mendukung hidup kita. Kalau pendidikan kita nggak memadai, tentu akan sulit mencari pekerjaan yang layak untuk hidup kita. Lain soal jika kita adalah orang yang lincah membuat jaringan dan membangun bisnis yang oke punya. Pendidikan jadi bukan masalah besar. Toh, kita bisa membiayai hidup kita dari bisnis yang menjanjikan, tapi kan nggak banyak orang yang seperti itu. Saya kenal beberapa orang yang menyesali pilihan mereka tentang pendidikan ini. Tidak ada jalan kembali, karena waktu yang sudah bergulir, tidak mungkin diputar kembali. Oh ya, dampak dari pilihan pendidikan ini banyak berpengaruh ternyata kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Gampangnya gini, kalau kita ternyata di masa depan tidak bisa membiayai diri sendiri secara layak, maka siapa yang akan direpotkan? Keluarga tentu, kan? Keluarga itu adalah lingkaran terdekat yang paling tidak bisa berdiam diri ketika sesuatu terjadi dalam hidup kita. Malah kadang, ketika kita senang, keluarga hanya bisa ikut berbahagia, namun tidak bisa merasakannya langsung. Sebaliknya, kesusahan kita sudah menjadi kesusahan bagi keluarga. 


Monday, January 18, 2016

Kali Ini, Pajak Lima Tahunan

Oke, pagi ini ditemani hujan di pagi pertengahan Januari, saya membulatkan tekad untuk mengurus pajak motor saya. Hujan-hujan begini memang sebenernya males untuk keluar rumah berpakaian rapi. Enaknya ajak ponakan, keluar rumah trus main hujan, hahaha. Anyway, it's Monday! It's my decision to be in a good spirit every Monday. No matter what. So, there I was. In my raincoat, holding tight my key and preparing all things required to complete the requirements needed.

Berbekal pengetahuan hasil tanya-tanya Mbah Google, saya berangkat ke kantor Samsat. Dari blog seseorang yang entah siapa namanya, saya dapat info bahwa berkas yang harus saya bawa, yaitu
  1. BPKB, STNK, KTP a.n STNK asli.
  2. Fotokopi BPKB, STNK sebanyak 1 (satu) lembar.
  3. Uang buat bayar pajak (ya iyalah!).
  4. Bawa motor atau kendaraannya.
Nah, sekarang what to do di kantor Samsat!
  1. Parkir kendaraan di tempat cek fisik. Bukan di parkiran umum kalo mau bayar pajak tahunan ya. Biasanya ada tulisan "Cek Fisik" atau semacamnya lah. Disitu serahkan fotokopi BPKB dan STNK serta STNK dan KTP asli. BPKB asli sekedar ditunjukkan ke petugas. BPKB disimpan kembali.
  2. Petugas bagian cek fisik meminta bagasi motor atau kap mesin kalau mobil dibuka, karena mau menggosok nomor rangka kendaraan. Setelah itu nunggu, nama dipanggil, petugas akan mengembalikan berkas kendaraan.
  3. Setelah berkas dikembalikan, berkas dibawa ke loket tempat pembayaran pajak kendaraan di Gedung Samsat. Ambil nomor antrian, lalu menunggu lagi untuk dipanggil dan diberikan formulir yang harus diisi. Biar lancar, bawa pulpen sendiri deh, supaya nggak antri pulpen.
  4. It's all about waiting. Setelah mengumpulkan formulir, formulir diganti dengan nomor antrian baru. Ini nanti akan ditukar dengan rincian pajak yang harus dibayar. Tunggu lagi nomor antrian dipanggil.
  5. Nomor antrian dipanggil dan selesaikan pembayaran di loket. Setelah diberi tanda lunas, selanjutnya penantian akan segera berakhir (halah!).
  6. Setelah dipanggil, tandanya penantian saya akan berakhir di kantor Samsat, dan artinya STNK sudah jadi.
  7. STNK diserahkan oleh petugas sambil dijelaskan bahwa nomor plat kendaraan baru akan jadi tahun depan (what??). Kira-kira gini kata pak petugas, "Jadi tahun depan sambil bayar pajak kendaraan tahunan, plat nomor sudah bisa diambil." Ya sudahlah...
  8. Bayar parkir dan pulang.
  9. Durasinya sekitar dua setengah jam dari awal antri cek fisik sampai dapat STNK baru. Kalau sampai dapat plat nomor, ya berarti setahun lebih dua setengah jam, hahaha.
Itu cerita saya, inti dari postingan ini adalah menunggu itu bagian dari hidup dan saya sudah terbiasa. Nunggu kamu selama ini aja sabar, masak nunggu STNK dua setengah jam aja nggak sabar. (OST. A Thousand Years - Christina Perri).

Thursday, December 10, 2015

Sometimes, It's Just Not Enough

The sun shines brightly today, since the very morning when I walked to work. I can't even widely open my eyes. It's too bright. Actually, it wasn't too bright. I just wasn't ready for the usual normal sunshine. I was still expecting sun shines in a cloudy sky. I mean, it's supposed to be still in rainy season, isn't it? I still need extra time to enjoy walking in the rain and memorize things I did when I was a kid. Walking, running, playing in the rain. What a nice moments to remember and always playing around my mind every time rain comes. For some people, rain speaks about romantic, sad memories in the same time. For me, rain speaks about LIFE! 

I wasn't ready to face that rainy season is over today. No! It has to be still in rainy time. It's still December. December has to be wet of rain. Never miss rain until this year which is poor of rain.

Something whispered in my ear that I'm not ready to let rain go, because I haven't spent my time for enough walking, running, or playing in the rain. Not enough for being wet and drown in the memories of rain.

Therefore, sometimes we are not ready to let some people go on their own life, because we haven't feel it's enough to spend precious time or emotion with them. When that happen, the only thing we can do is letting go. Just let go and we'll feel the best freedom. Seriously. I did.

Friday, December 4, 2015

Lagi Lagi...

Hari ini, sama seperti beberapa hari belakangan, saya sedang sepi job di kantor dan berbuatlah saya secara lebih random. Satu hal yang statis adalah dimulai dengan membuka laptop. Tanpa berpikir panjang, saya mengetuk tab whatsapp dan telegram di web. Sejenak kemudian, mulailah grup teman-teman senasib aktif. Ini adalah grup yang hanya aktif di jam kerja karena sebagian besar anggotanya hanya mengaktifkan telegram di kantor, menggunakan PC kantor, dan jaringan internet kantor. Maafkan kami. lol.

Perbincangan random terjadi, mulai dari kabar masing-masing, apa yang sedang dikerjakan, hingga tukin alias tunjangan kinerja. Berapa besarannya dan lain sebagainya. Teman saya malah sudah menghitung berapa yang akan kami terima nanti. Bayangkan betapa galaunya kami. Gajian saja belum terima, sudah sibuk memikirkan tukin. *sigh*

Sejak kemarin, saya lebih suka menguasai duduk di kursi dan meja rapat yang kurang berdaya guna selain digunakan untuk makan dan nonton TV. Well, nice try! Little isolated but cozy for me. Siang hari, datanglah seorang dosen yang juga ditugaskan di unit ini. Wajah pak dosen seperti biasa, ekspresinya saya duga karena sinar matahari siang di luar yang kelewat terik. Maklumlah, ini Serang, bukan Tokyo. Beliau meletakkan ranselnya di meja tepat depan saya dan melangkah ke dalam untuk menyapa teman-teman yang lain. Tidak lama, kembali lagi mengambil sesuatu di ranselnya dan menggumam, "Waduh! Baru tanggal segini, uang udah habis!"
Saya spontan nyengir dan berkomentar, "Nggak papa, Pak. Kalau habis kan nanti datang lagi."
Pak dosen nyengir, lalu saya komentar lagi, "Uang kan emang buat dihabisin, Pak." Sambil nyengir lebih lebar.
Pak dosen bilang, "Emangnya kumis, dicukur tumbuh lagi?" Saya ngakak kali ini.

Yes, lagi-lagi uang! Jadi ingat perbincangan saya dengan seorang teman. Dalam Islam, rizki dan uang itu tidak berada dalam chapter yang sama, karena rizki itu pada hakikatnya bukan sekedar uang. Kalau ada orang tua dengan anak-anak yang semuanya patuh, sehat, dan cerdas, maka itu lebih dari sekedar uang sekian juta rupiah yang dimiliki oleh pasangan lain yang bertahun menanti anak atau yang anggota keluarganya diberi ujian sakit.

Buat saya sih, setiap hari ada saja hal yang dengan mudahnya bisa disyukuri. Meski drama dalam kehidupan seakan tidak pernah berhenti dipertontonkan namun sepanjang cerita dan di akhirnya nanti akan selalu ada hikmah yang bisa dipetik.

#mendung syahdu dan geluduk

Thursday, December 3, 2015

Opang vs Go Jek

Dua malam yang lalu saya menonton acara komedi yang dikemas serupa dengan acara serius. Indonesia Lawak Klub (ILK). Setting ruangan dan moderator serta para komentator pun dibuat mirip-mirip dengan acara serius panutannya, Indonesia Lawyers Club (ILC). Saya juga tidak terlalu sering nonton acara ini sebenarnya tapi malam itu, tema yang diangkat adalah Ojek Pangkalan versus Go Jek.

Ojek Pangkalan adalah ojek yang mungkin hadir tidak lama setelah kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Maksud saya, sudah lama ada, seingat saya sih, dari kecil saya sudah familiar dengan yang namanya ojek pangkalan. Walau memang akhir-akhir ini, pengojek yang mangkal semakin banyak karena sepertinya pekerjaan sebagai pengojek ini menjadi solusi bagi beberapa orang yang butuh tambahan penghasilan atau bahkan mereka yang belum punya pekerjaan tetap. Dulu, orang tua murid di sekolah tempat saya mengajar, lebih dari separuhnya bekerja atau mencari "sampingan" sebagai pengojek. 

Beberapa waktu belakangan ini, sekitar Indonesia dihebohkan dengan hadirnya ojek yang bisa dipesan melalui aplikasi. Nama layanan ojek ini adalah Go Jek. Didirikan tahun 2011 oleh dua pemuda keren, Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran. Sepanjang pengetahuan saya, selain mengantar manusia, pengemudi Go Jek bisa juga diminta untuk mengantarkan barang, dokumen serta membelikan barang dari suatu tempat jika dibutuhkan.

Bagi saya, Go Jek ini sungguh keren karena meningkatkan prestise dan pendapatan para pengemudinya. Terbukti, menurut para pengemudinya dan seorang pengemudi yang hadir di acara itu, penghasilan mereka lebih besar berkali-kali dibanding ojek pangkalan atau opang. Selain itu, pengemudi Go Jek juga mengaku bisa belajar banyak hal. Mulai dari mengoperasikan aplikasi, memilih dan membeli barang yang sebelumnya mungkin tidak terpikir untuk membeli hingga mengantarkan dokumen lalu bertemu orang-orang penting yang menantikan dokumennya. Eksklusif, bukan? Jadi, bukan hanya meningkat secara finansial tapi juga secara intelektual. Toh, rejeki bukan sekedar berduit, kan?

Lalu, kenapa sih para opang banyak yang tidak mau beralih menjadi pengemudi Go Jek? Mengingat beberapa keuntungan yang didapat dengan bergabung menjadi pengemudi Go Jek. Kurang lebih begini kesaksian seorang pengemudi ojek pangkalan yang hadir di acara itu ketika ditanya kenapa tidak tertarik menjadi pengemudi Go Jek, "Kalo Go Jek itu kan harus mau jemput-jemput pelanggan yang jauh-jauh tempatnya. Kalo mangkal kan tinggal nunggu giliran, nggak usah kemana-mana bisa sambil baca koran, ngobrol." #gubrak

Well, buat saya semua orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Namun, kemajuan bangsa ini, menjadi tanggung jawab kita semua, bukan? Jika ada orang yang untuk kemajuan dirinya sendiri saja mereka enggan bergerak, bagaimana mereka bisa memajukan bangsa ini? Jadi pengen pasang quotenya Bill Gates, "If you born poor, it's not your mistake. But, if you die poor, it's your mistake."


Friday, October 23, 2015

NaNoWriMo

Based on the dictionary.com, consistency means
  • a degree of density, firmness, viscosity, etc.:
  • steadfast adherence to the same principles, course, form, etc.:
  • agreement, harmony, or compatibility, especially correspondence or uniformity among the parts of a complex thing:
  • the condition of cohering or holding together and retaining form; solidity or firmness.

Let me tell you, consistency is a thing that I’m learning of, working in, and it never yet finished. Many things happen with which in the end, I know that the main problem is consistency. My consistency is worse than bad, sad to say. I can be very excited for a thing and in short term the condition can be upside down. I could feel nothing about the things I was excited about. Stop doing it and just don’t feel the emotion.

One thing I really excited about and still have the emotion until now, is writing. I have something for having novel, but my consistency doesn’t help me at all. How can I have a novel if I never write it?
One day, my friend introduced me to NaNoWriMo. What is it? It’s an independent organization for writer or writer wannabe all over the world to help them writing consistently. In November, they have a novel writing competition. What makes it more interesting is that the languages used by the writer consist of many different languages. Everyone can participate in the competition and also can win it. How can? Yes, absolutely! Actually, all writers here is compete against themselves. Compete to defeat their lack of consistency, experience, and many untold reasons.

Anyway, I have been part of NaNoWriMo since three years ago and not even a word written. What a shame!

This year, nearly a week after, I've decided to join the competition and hopefully I can win it. Wish me luck!

Monday, October 19, 2015

Peduli itu...

Sebagai jomblo senior dan berpengalaman *gaya*, saya tentu sudah sering menanggapi pertanyaan :
  1. “Udah nikah belum?” Ketika saya jawab, “Belum”, maka percakapan menyebalkan berlanjut ke
  2. “Kapan nikah?” atau…
  3. “Kok belum nikah?” bisa juga…
  4. “Pilih-pilih sih ya?”
  5. dan sebagainya.
Serta berbagai bentuk pertanyaan senada yang memuakkan pada awalnya tapi semakin lama mendengarnya, jadi terasa bagai angin lalu. Ya lah, bagaimana pun juga saya nggak akan pernah bisa mengendalikan apa yang akan dikeluarkan orang dari mulutnya. Istilah mulutmu harimaumu tidak berlaku untuk semua orang. They don’t even know that it exists. Semua bentuk pertanyaan di atas sebenernya sih sama-sama menyebalkan tapi dengan kadar yang berbeda.

Nah, pertanyaan yang terakhir biasanya saya jawab, “Apa yang mau dipilih?” dan percakapan itu berlanjut dengan tawa kami. Iya, menertawakan saya tentu. Padahal dalam hati saya, masak iya saya nggak pilih-pilih, beli bakwan yang sekali lahap habis saja, saya memilih yang masih hangat, ukurannya cukup besar, dan tidak terlalu kering, misalnya. Tentu untuk pernikahan yang diharapkan sekali seumur hidup, saya harus juga punya kriteria, walau belum tentu pria yang memenuhi kriteria saya, berminat dengan saya. *tertawa miris* *sigh*

Dari berbagai jenis manusia yang saya temui dan menanyakan pertanyaan “neraka” itu (lebay deh), saya bisa mengetahui apakah orang ini benar-benar peduli atau sekedar iseng bertanya. Malangnya, sebagian besar orang yang saya temui menanyakan pertanyaan itu sekedar iseng atau untuk bahkan menjadikan status saya bahan untuk tertawaan. Ada juga orang yang benar-benar peduli. Mereka ini justru tidak banyak bertanya. Bahkan, walau kadang mereka sangat ingin mengetahui, pertanyaan langsung tidak akan terlontar. Mereka memilih untuk menyelidik sendiri. Tujuannya tentu saja untuk menjaga perasaan saya agar tidak tersinggung atau merasa canggung. Jika saya bertemu orang-orang yang benar-benar peduli seperti ini, maka saya pun akan berusaha menjaga perasaan mereka. Otomatis saja terjadi.

Bagaimana dengan mereka yang banyak bertanya padahal sesungguhnya tidak peduli? Pada umumnya saya tetap akan bersikap baik. Lupakan saja tawa mereka karena “perbedaan prinsip” kami, yang penting saya berusaha tidak melakukan hal yang sama dengan mereka sehingga menempatkan saya menjadi sama dengan mereka. It’s fine if they think different with me. They don’t live my life and I don’t live theirs.

Thursday, October 15, 2015

...dan begitulah akhirnya.

Semua orang tidak akan tahu akhir jalan hidupnya. Jangankan akhir hidup, apa saja yang akan terjadi hari ini, peristiwa satu jam yang akan datang, atau sedetik kemudian, siapa yang tahu? Kecuali jika kita adalah cenayang, bocah indigo, atau semacamnya. Ah, jika Anda termasuk bagian dari golongan manusia itu, maka Anda perlu mengunjungi peruqyah syar'i terdekat untuk diruqyah. *seriously*

Sekali lagi diingatkan bahwa hidup ini akan berakhir. Giliran semakin dekat, tidak pernah malah menjauh. Sebaik, sehebat apapun, setiap orang akan menghadapi akhir hidupnya. Pun begitu, tidak pernah bijak jika hanya menanti datangnya tanpa berbuat apa-apa. Nikmatilah hidup dengan bijak karena suatu hari, ketika matahari masih bersinar cerah, langit tergelar indah, dan angin semilir mengusir gerah, itu semua tidak berarti, karena sang akhir menghampiri.

Pada akhirnya, ini adalah tentang siapa kita ketika jiwa masih mengisi raga, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi orang lain, dan Sang Maha Segala. Bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tapi bagaimana menghargai dan menyayangi orang lain karena entah siapa yang akan lebih dulu mendekati akhir.

"Tenang saja, Bapak orang baik insya Allah." 
...dan begitulah akhirnya. *glassy eyes*

Monday, October 5, 2015

Para Jomblo Keren

Saya baru tersadar satu hal ketika saya bersepeda kemarin sore. Beberapa tenda aneka warna berdiri dengan cantiknya di jalan-jalan. Tidak lupa tulisan, "Dilarang masuk kecuali undangan."
Yak! Ini musim menikah! Musim yang diprediksi akan hadir setelah lebaran haji atau Idul Adha. Ada pula yang bilang lebaran "mbek". Musim ini jauh lebih pasti dibanding musim hujan, musim duren, musim rambutan, atau musim buah lainnya. Pada musim ini, banyak yang berbahagia, ada pula yang biasa saja atau justru memelas. Kalau saya, masuk golongan mana? Saya bisa masuk golongan yang ikut berbahagia, bisa juga biasa saja, atau memelas. Ikut berbahagia ketika ada teman saya yang ikut menikah pada musim itu. Biasa saja karena saya tidak merasa dirugikan atau diuntungkan. Kalau memelas, nah ini kayaknya nggak deh. Setidaknya saya berharap semoga pada musim apapun saya akan selalu dalam keadaan bersyukur. Aamiin

Kali ini sungguh saya bukan akan membahas tentang musim fenomenal yang satu ini. Ide ini juga tiba-tiba muncul ketika saya bersepeda kemarin. Sungguh, berolah raga membuat pikiran semakin cemerlang. Sebagai seorang jomblo berpengalaman, tentunya saya juga punya beberapa teman yang tidak kalah jomblonya dengan saya eh, salah. Tidak kalah berpengalaman sebagai jomblo dengan saya. Mereka ini adalah para jomblo keren atau high quality jomblo. Ini adalah spesies manusia yang saya rasa sungguh klop dengan saya. Terutama untuk urusan jalan-jalan.

Saya punya seorang teman yang saya kenal karena dulu kami pernah jualan jus di hari Ahad pagi. Tentu sekarang tidak lagi, karena bertahun lalu, kami disibukkan dengan urusan kuliah dan hal lain. Skip skip...
Teman saya ini, super banget menurut saya. Pada masa krisis seperti sekarang, she decided to resign from her job. Iya, berhenti bekerja dan merencanakan sebuah apotek kecil miliknya sendiri dengan keahliannya. Saya sungguh terpana ketika suatu malam kami saling berkirim teks. Baginya, kemandirian bukan sekedar lipservice.

Jomblo kedua yang juga keren menurut saya adalah seorang teman, kakak kelas sebenarnya. Satu tingkat di atas saya. Mbak ini mampu menjawab banyak sekali pertanyaan saya atau siapapun yang bertanya padanya. Mbak ini dengan gagah berani membuka sebuah bimbingan belajar kecil di rumahnya bersama tiga orang temannya. Selain itu, mbak ini juga membuat sebuah event organizer. Kadang entah karena alasan apa, saya sungguh terpesona dengan kemampuannya mendengar (membaca karena sekarang kami lebih banyak berkirim teks) permasalahan orang lain dan memberikan berbagai solusi menyegarkan.

Jomblo lainnya yang tidak kalah keren, yaitu kakak saya sendiri. Perkenalkan, hehe. Mbak saya nih adalah sosok perempuan yang berani, mandiri, tegar, dan pemurah. Bahkan kami sebagai adik-adiknya, bohong jika kami tidak merasa berhutang budi padanya. Apalagi kedua saudara laki-laki saya. Mbak saya nih, mengambil peran sebagai kepala keluarga sejak bapak menutup usia lebih dari 13 tahun yang lalu.

Tentu saja mereka ini adalah jomblo-jomblo keren versi saya dan pada sisi kekuatan mereka masing-masing. Saya belajar banyak hal dari mereka dan menjadikan sisi kekuatan mereka sebagai panutan bagi saya. Sekeren apapun jomblo-jomblo versi saya, tetep sih saya berharap mereka akan segera mengakhiri masa jomblonya. Aamiin.
Seorang jomblo yang keren, tentu akan menjadi lebih hebat jika dia menjadi seorang istri atau ibu. *uhuk!*

Oh ya, btw selamat ulang tahun TNI yang ke-70. Atraksi alutsistanya keren deh!

Monday, September 7, 2015

Menunggu itu Berjuta Rasanya

Menunggu itu berjuta rasanya. Sungguh!
Ditambah lagi jika hal yang ditunggu itu tidak jelas kapan datangnya. 

Kali ini saya harus menunggu selama lebih dari lima bulan. Kalau mengikuti kata hati, jelas menunggu itu adalah hal yang menyebalkan. Fase menunggu dan galau saya kali ini, sungguh mengerikan. Saya jadi nggak gajian, yang berarti saya mengalami bokek kronis. Kalau biasanya dengan rutinitas harian, saya masih bisalah, dengan optimis merencanakan jalan-jalan, kali ini sungguh, untuk mengganti baterai jam tangan saja saya harus berpikir berulang-ulang. Terdengar lebay? Yoi! Penantian ini juga lebay buat saya *sigh*.

Well, bagaimanapun yang sudah terjadi tak usah disesali. Situasi ini juga adalah pilihan saya. Satu hari saya akan mengenang ini sambil senyum-senyum kok, insya Allah.

Syukurlah, saya termasuk orang yang kreatif kalau kepepet (oh! really?).
Inilah bukti pikiran kreatif saya: 
  • Saya berolahraga hampir setiap pagi dan tidur siang setiap siang, hahaha. Ini hal yang nggak bisa saya lakukan kalau saya bekerja.
  • Saya jadi teringat kalau saya punya tabungan unitlink yang bisa dicairkan kapan saja. Jadi, sudah tahu kelanjutannya, kan? 
  • Saya memulai usaha laundry kiloan yang sudah saya inginkan sejak lama, melirik banyaknya usaha sejenis yang tidak pernah sepi. Walau dengan modal seadanya dan tenaga sendiri. Judulnya, saya jadi direktur sekaligus pekerja di perusahaan laundry saya *ngakak guling-guling.
Sekarang sih, saya sudah mulai bekerja kembali, walau belum tahu apakah sudah akan berpenghasilan kembali juga. Kok bisa? Nanti saya ceritakan lagi ketika segalanya sudah jelas ya.

Inti dari tulisan (baca:curcol) saya kali ini adalah, menunggu itu menyebalkan, jika tidak ada yang bisa dikerjakan sambil menunggu. Dalam kasus saya, penantian saya menyebalkan karena saya dalam kondisi tidak berduit! Menyebalkan karena saya nggak bisa jalan-jalan dan senang-senang. Eh, saya sempat jalan-jalan juga sih, naik gunung dua kali. Itu di awal menanti, karena waktu itu saya nggak nyangka bakal harus menunggu sekian lama.
Saya masih dalam masa penantian sih, tapi saya belajar banyak dari proses ini. Belajar menghargai banyak hal dan memahami makna sabar serta melihat apa yang dimiliki, bukan apa yang diinginkan tapi belum ada. 

Monday, December 30, 2013

Good Bye is Never Easy

Good bye is never easy, even when you have to face it regularly. Hand shake. A smile in the faces. A hug. Tears. It hurts. Trust me.
*sigh