I can't be perfect, if you compare me with anyone else. I am who I am and you are who you are. As a Javanese by blood, not by tradition, I always feel good because Javanese always looks good. It's well known as a hard worker, polite kind of people. Even some people says, Javanese women are good in handling money. They can be very generous but economical. I don't know the true fact about them actually. Despite, based on my experiences, some good characters are not always shown. For some reason, Javanese can be worse than any other tribe and vice versa. It's about you are as a human being. People are respected of how they behave and interact with others.
In The Holy Quran, Allah looks at His people's taqwa and taqwa make people doing good deed. It's a fact and universal law. I write this, not only because I can't be racist (since I don't have race, lol) but also because I'm done with people make fun of others because of their race, skin color, or something like that. It's not supposed to happen in the modern era like nowadays.
People are equal.
Showing posts with label reminder. Show all posts
Showing posts with label reminder. Show all posts
Thursday, May 12, 2016
Friday, April 8, 2016
It's So Damn True !
Sometimes, nature just lead you to some enlightenment without notice and it made you realize that some things are not supposed to be this or that. So, this slapped me yesterday...
Monday, March 14, 2016
It's (Not) Always Better Late Than Never
The anonymous quote said that it's better late than never for many things or occasion in life.
For example, attending an exam in your life. It's better you came late with all sweat because you have to run climb up the stairs plus worrying whether the rooms supervisor letting you in or not. You answer his or her question nervously and maybe you suddenly become a stutter. The suggestion is, try your best to attend the exam. Even though you have to lose your minutes for doing the exam. Still, you have the chance to pass the exam. It's still better than you never attend it. I've been there anyway.
Another example for something better than never is, when you are not young anymore and you want to continue your study. For this case, it's best decision people ever made in their life. You're never too old to learn. Learning some knowledge makes you stay young forever. People said that. I will prove it one day, hopefully.
There's nothing absolute in this world anyway. The A result for one case could be resulted B, C, even X, Y, Z. In other word, the result could be totally different in other case. There's nothing absolute.
So, it's not always better late than never but sometimes, it's better never than late. Like wedding vow I've heard in some movies, "...if you have something to be told. Say it now, or be silent forever".
The decision is yours. Enjoy every step of it.
For example, attending an exam in your life. It's better you came late with all sweat because you have to run climb up the stairs plus worrying whether the rooms supervisor letting you in or not. You answer his or her question nervously and maybe you suddenly become a stutter. The suggestion is, try your best to attend the exam. Even though you have to lose your minutes for doing the exam. Still, you have the chance to pass the exam. It's still better than you never attend it. I've been there anyway.
Another example for something better than never is, when you are not young anymore and you want to continue your study. For this case, it's best decision people ever made in their life. You're never too old to learn. Learning some knowledge makes you stay young forever. People said that. I will prove it one day, hopefully.
There's nothing absolute in this world anyway. The A result for one case could be resulted B, C, even X, Y, Z. In other word, the result could be totally different in other case. There's nothing absolute.
So, it's not always better late than never but sometimes, it's better never than late. Like wedding vow I've heard in some movies, "...if you have something to be told. Say it now, or be silent forever".
The decision is yours. Enjoy every step of it.
Thursday, December 3, 2015
Opang vs Go Jek
Dua malam yang lalu saya menonton acara komedi yang dikemas serupa dengan acara serius. Indonesia Lawak Klub (ILK). Setting ruangan dan moderator serta para komentator pun dibuat mirip-mirip dengan acara serius panutannya, Indonesia Lawyers Club (ILC). Saya juga tidak terlalu sering nonton acara ini sebenarnya tapi malam itu, tema yang diangkat adalah Ojek Pangkalan versus Go Jek.
Ojek Pangkalan adalah ojek yang mungkin hadir tidak lama setelah kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Maksud saya, sudah lama ada, seingat saya sih, dari kecil saya sudah familiar dengan yang namanya ojek pangkalan. Walau memang akhir-akhir ini, pengojek yang mangkal semakin banyak karena sepertinya pekerjaan sebagai pengojek ini menjadi solusi bagi beberapa orang yang butuh tambahan penghasilan atau bahkan mereka yang belum punya pekerjaan tetap. Dulu, orang tua murid di sekolah tempat saya mengajar, lebih dari separuhnya bekerja atau mencari "sampingan" sebagai pengojek.
Beberapa waktu belakangan ini, sekitar Indonesia dihebohkan dengan hadirnya ojek yang bisa dipesan melalui aplikasi. Nama layanan ojek ini adalah Go Jek. Didirikan tahun 2011 oleh dua pemuda keren, Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran. Sepanjang pengetahuan saya, selain mengantar manusia, pengemudi Go Jek bisa juga diminta untuk mengantarkan barang, dokumen serta membelikan barang dari suatu tempat jika dibutuhkan.
Bagi saya, Go Jek ini sungguh keren karena meningkatkan prestise dan pendapatan para pengemudinya. Terbukti, menurut para pengemudinya dan seorang pengemudi yang hadir di acara itu, penghasilan mereka lebih besar berkali-kali dibanding ojek pangkalan atau opang. Selain itu, pengemudi Go Jek juga mengaku bisa belajar banyak hal. Mulai dari mengoperasikan aplikasi, memilih dan membeli barang yang sebelumnya mungkin tidak terpikir untuk membeli hingga mengantarkan dokumen lalu bertemu orang-orang penting yang menantikan dokumennya. Eksklusif, bukan? Jadi, bukan hanya meningkat secara finansial tapi juga secara intelektual. Toh, rejeki bukan sekedar berduit, kan?
Lalu, kenapa sih para opang banyak yang tidak mau beralih menjadi pengemudi Go Jek? Mengingat beberapa keuntungan yang didapat dengan bergabung menjadi pengemudi Go Jek. Kurang lebih begini kesaksian seorang pengemudi ojek pangkalan yang hadir di acara itu ketika ditanya kenapa tidak tertarik menjadi pengemudi Go Jek, "Kalo Go Jek itu kan harus mau jemput-jemput pelanggan yang jauh-jauh tempatnya. Kalo mangkal kan tinggal nunggu giliran, nggak usah kemana-mana bisa sambil baca koran, ngobrol." #gubrak
Well, buat saya semua orang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Namun, kemajuan bangsa ini, menjadi tanggung jawab kita semua, bukan? Jika ada orang yang untuk kemajuan dirinya sendiri saja mereka enggan bergerak, bagaimana mereka bisa memajukan bangsa ini? Jadi pengen pasang quotenya Bill Gates, "If you born poor, it's not your mistake. But, if you die poor, it's your mistake."
Monday, November 30, 2015
Lumrah tapi (Ternyata) Salah
Anak kecil jaman sekarang beda ya, dengan anak kecil jaman kita kecil dulu? Anak sekarang itu lebih pecicilan dan cerewet. Ciri-ciri anak sehat katanya emang gitu. Senang bergerak dan melakukan hal-hal yang menarik buatnya. Ya lah, semua anak kan memang melihat dunia sebagai tempat mereka bermain. The world is a playground and everytime is also play time. Some of us as an adult also think the same way, do we? Hayo ngaku! Cuma bedanya, kita sebagai orang dewasa sudah terbentuk oleh norma-norma, pendidikan, persepsi, dan tanggung jawab sehingga keinginan untuk bermain itu tentu berkurang, sedikit demi sedikit. Namun jika keinginan itu "disentil" sedikit, maka jangan ditanya!
Nah, dalam proses bermain itu, pasti ada kan saatnya si anak udah dibilangin berkali-kali masih ngeyel, trus jatuh, terluka, nangis. Lalu biasanya (dari pengalaman dan pengamatan saya), orang tua di sekitarnya bereaksi kesal dan balik marah ke si anak itu. Saya ingat ketika di sekolah saya dulu, ada teman guru yang ngajak anaknya ke sekolah. Si anak ini perempuan, usia 2 tahunan, aktif seperti anak-anak lain seumurnya lah. Tiba saat ketika anaknya jatuh, terluka dan nangis. Ibunya sibuk marahin anaknya sambil teriak-teriak. Di saat yang sama, kami semua menoleh ke arah si ibu. Ada apakah? Kenapa heboh sangat?
Di saat yang sama, teman saya yang lain yang ada di dekatnya, berbalik menegur si ibu.
"Anaknya udah sakit itu badannya karena jatuh. Jangan dibikin sakit juga hatinya karena dimarahi." Bicaranya santai, tapi dalem.
It's a slap moment. Selama ini, saya pikir reaksi seperti itu adalah hal yang lumrah. Padahal sungguh hal itu menyakiti perasaan si anak. Dia mungkin suatu hari akan lupa dan mengabaikan "marahnya" si ibu tapi bentakan akan menetap di alam bawah sadarnya. Efeknya, bisa jadi dia malah jadi anak yang ignorance dan tidak bisa diingatkan kecuali dengan cara dibentak. Teman saya yang menegur tadi itu memang tidak pernah saya lihat menegur anaknya dengan cara yang keras, padahal saya lumayan sering berinteraksi dengan keluarganya. Walhasil, dua anaknya berperangai halus dan mudah diarahkan. Ini kisah nyata.
Saya punya empat keponakan yang super duper juga dan saya ingat terus kata-kata teman saya ini. Ketika para krucils berkunjung ke rumah yangtinya yang adalah ibu saya, saya berusaha untuk tidak menegur dengan keras apalagi ketika mereka sudah tersakiti sebelumnya meski akibat perbuatan mereka sendiri. Badan boleh sakit tapi toh akan segera pulih.
Nah, dalam proses bermain itu, pasti ada kan saatnya si anak udah dibilangin berkali-kali masih ngeyel, trus jatuh, terluka, nangis. Lalu biasanya (dari pengalaman dan pengamatan saya), orang tua di sekitarnya bereaksi kesal dan balik marah ke si anak itu. Saya ingat ketika di sekolah saya dulu, ada teman guru yang ngajak anaknya ke sekolah. Si anak ini perempuan, usia 2 tahunan, aktif seperti anak-anak lain seumurnya lah. Tiba saat ketika anaknya jatuh, terluka dan nangis. Ibunya sibuk marahin anaknya sambil teriak-teriak. Di saat yang sama, kami semua menoleh ke arah si ibu. Ada apakah? Kenapa heboh sangat?
Di saat yang sama, teman saya yang lain yang ada di dekatnya, berbalik menegur si ibu.
"Anaknya udah sakit itu badannya karena jatuh. Jangan dibikin sakit juga hatinya karena dimarahi." Bicaranya santai, tapi dalem.
It's a slap moment. Selama ini, saya pikir reaksi seperti itu adalah hal yang lumrah. Padahal sungguh hal itu menyakiti perasaan si anak. Dia mungkin suatu hari akan lupa dan mengabaikan "marahnya" si ibu tapi bentakan akan menetap di alam bawah sadarnya. Efeknya, bisa jadi dia malah jadi anak yang ignorance dan tidak bisa diingatkan kecuali dengan cara dibentak. Teman saya yang menegur tadi itu memang tidak pernah saya lihat menegur anaknya dengan cara yang keras, padahal saya lumayan sering berinteraksi dengan keluarganya. Walhasil, dua anaknya berperangai halus dan mudah diarahkan. Ini kisah nyata.
Saya punya empat keponakan yang super duper juga dan saya ingat terus kata-kata teman saya ini. Ketika para krucils berkunjung ke rumah yangtinya yang adalah ibu saya, saya berusaha untuk tidak menegur dengan keras apalagi ketika mereka sudah tersakiti sebelumnya meski akibat perbuatan mereka sendiri. Badan boleh sakit tapi toh akan segera pulih.
Friday, November 27, 2015
Wake Up Call
Cuma mau bilang gini...
“Kalau memang terlihat rumit, lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita.
Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apapun, dan keindahan yang apa adanya.”
Bukan saya sih, yang bilang. Itu quotenya Bang Tere di novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" and I couldn't agree more.
That's it...
Tuesday, October 13, 2015
Oh man, I Missed the Bus!
Yesterday morning, while I was walking to the bus stop. Well, actually it's not bus stop. It's just a place where I usually stop buses. There are no real bus stop here, anyway. People can stop almost any bus they want anywhere. When I was walking fast while talking to myself like usual, then I saw a bus passed by. "Oh, man, I missed the bus!" I again talked to myself. It hurts, you know. It's not nice at all when I had to make another wait for unpredictable time. It meant I have to stand beside the dusty smokey road to wait for another available bus. One, two, five minutes, waited while paying attention to people pass by is quite nice actually if I wasn't in a hurry, but I have to be in the office immediately if I don't want to be late. This is my conscience every morning, five days a week. Then, the miracle happened (I know that it sometimes happens) to me. I saw a bus! It's not common bus! It's a bus to a certain city, a bus which is known for its speed! I froze for a second then realize, "Hey, it can take me faster than any other bus, yeah!" And as predicted, it took me so very fast. I arrived ten minutes early than the punctual time. Wonderful!
So, sometimes, we just so stressful in whining something we miss in life. It could be a job, business, someone we thought he/she is the one but then he/she marry to another person but us. We were so busy to think that, why I didn't do this, that, and many other regrets, while actually, long after, there are better scenario served for us. All the regretful things, sadness tears, can be our lesson for the next step of life. Remember that we live not only for today or yesterday. The most important thing is, we live for a better future.
So, sometimes, we just so stressful in whining something we miss in life. It could be a job, business, someone we thought he/she is the one but then he/she marry to another person but us. We were so busy to think that, why I didn't do this, that, and many other regrets, while actually, long after, there are better scenario served for us. All the regretful things, sadness tears, can be our lesson for the next step of life. Remember that we live not only for today or yesterday. The most important thing is, we live for a better future.
Friday, October 9, 2015
Menghirup Dedak
Malam kemarin, di grup whatsapp teman kuliah saya, seorang teman yang masih aktif di kampus karena menjadi salah satu tenaga pengajar disana, memposting gambar seorang pria yang pernah mendidik kami semua di kampus. Bapak dosen kami yang ganteng dan suka menyelipkan celetukan ala stand up comedy (pendengar tertawa spontan, yang melucu tetap berwajah datar) ketika memberi kuliah di kelas. Pak dosen kami ini sekarang sudah bergelar guru besar. Selamat ya, Pak! Dalam foto itu, terlihat pak dosen sedang menghadiri sebuah acara bincang-bincang di salah satu stasiun televisi swasta. Beliau menjadi pembicara ahli tentang asap dan kebakaran hutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Saya tidak akan membahas apa isi acara tersebut, karena saya pun tidak menyaksikannya. Perbincangan dengan topik serupa kemudian berpindah ke grup kami. Berbagai nada nyinyir dan kecewa terhadap tindakan presiden pun terlontar. Ucapan pak presiden yang meremehkan masalah ini membuat kami meradang, padahal sebagian besar dari kami tidak tinggal di wilayah berasap itu. Sungguh, kami ini orang kehutanan atau setidaknya pernah kuliah di Fakultas Kehutanan terbaik di nusantara. Ucapan presiden bahwa masalah asap ini gampang diatasi, sungguh membuat kami sedih. Presiden macam apa yang tidak hati-hati bicara dan bicara tidak dengan hati?
Seorang kawan di Jambi mengeluh bahwa sudah dalam hitungan bulan, Jambi diselimuti kabut asap yang menyesakkan. Teman saya ini bilang, "Napas serasa menghirup dedak, upil penuh abu, mata belek debu, tenggorokan serasa perlu disapu." Tanpa perlu merasakan langsung pun, deskripsi seperti itu sudah membuat sesak. Alhamdulillah, Jambi sudah bisa sedikit bernapas lega sekarang, berkat hujan yang diturunkan Allah dalam beberapa hari ini. Selalu, manusia yang membuat kerusakan, Dia yang menyelesaikan. Lain Jambi, lain pula Riau. Teman lain yang tinggal di Riau, menginfokan bahwa di pagi hari, visibilitas hanya sekitar 10-20 meter. Innalillahi...
Ada ajakan teman di Kalimantan Selatan untuk "berlibur" di Sumatra dan Kalimantan selama dua hari untuk "menikmati" asap. Saya langsung berkomentar, "Jangankan dua hari, ada tetangga bakar sampah dan asapnya masuk rumah aja rasanya udah sebel." Padahal durasi asap dari bakaran sampah tetangga, nggak sampai satu jam, kan?
Semoga hujan semakin sering turun dan menghapus asap yang menyakiti saudara-saudara kami. Mudah-mudahan pemerintah mampu bertindak tegas terhadap para pembakar hutan, sehingga peristiwa kebakaran hutan yang merugikan dan memalukan ini tidak lagi terjadi di kemudian hari.
Seorang kawan di Jambi mengeluh bahwa sudah dalam hitungan bulan, Jambi diselimuti kabut asap yang menyesakkan. Teman saya ini bilang, "Napas serasa menghirup dedak, upil penuh abu, mata belek debu, tenggorokan serasa perlu disapu." Tanpa perlu merasakan langsung pun, deskripsi seperti itu sudah membuat sesak. Alhamdulillah, Jambi sudah bisa sedikit bernapas lega sekarang, berkat hujan yang diturunkan Allah dalam beberapa hari ini. Selalu, manusia yang membuat kerusakan, Dia yang menyelesaikan. Lain Jambi, lain pula Riau. Teman lain yang tinggal di Riau, menginfokan bahwa di pagi hari, visibilitas hanya sekitar 10-20 meter. Innalillahi...
Ada ajakan teman di Kalimantan Selatan untuk "berlibur" di Sumatra dan Kalimantan selama dua hari untuk "menikmati" asap. Saya langsung berkomentar, "Jangankan dua hari, ada tetangga bakar sampah dan asapnya masuk rumah aja rasanya udah sebel." Padahal durasi asap dari bakaran sampah tetangga, nggak sampai satu jam, kan?
Semoga hujan semakin sering turun dan menghapus asap yang menyakiti saudara-saudara kami. Mudah-mudahan pemerintah mampu bertindak tegas terhadap para pembakar hutan, sehingga peristiwa kebakaran hutan yang merugikan dan memalukan ini tidak lagi terjadi di kemudian hari.
Sunday, June 1, 2014
*sigh
Let me tell you, what is the most annoying thing in my life recently. It is that people interfere my life and get me in trouble also tell me that I'm selfish of thinking about my own advantage and sacrify others but in fact, they are.
This resign stuff put me in unstable emotions. He told me that I have to responsible for my job in this year. Hey, you don't need to tell me! I know it's my job. I will finish it so that I can go quietly without others being hurt. Lately, I realize that people with more knowledge, higher social status, higher comprehension of religion doesn't mean that they will be more humane to reflect what kind of people they are.
*fireinmyeyes
This resign stuff put me in unstable emotions. He told me that I have to responsible for my job in this year. Hey, you don't need to tell me! I know it's my job. I will finish it so that I can go quietly without others being hurt. Lately, I realize that people with more knowledge, higher social status, higher comprehension of religion doesn't mean that they will be more humane to reflect what kind of people they are.
*fireinmyeyes
Thursday, September 19, 2013
Apa yang disebut-sebut itu memang benar...
Baca kalimat ini:
"Jika mampu mengikhlaskan, maka sesungguhnya itu adalah kebahagiaan sebenarnya."
Walaupun sering kali saya mendengar bahwa keikhlasan adalah hal terpenting dalam setiap aktivitas, namun baru kali ini saya mengalaminya sendiri. Sulit memang, tapi ketika hati ini sampai pada tahap mengikhlaskan, then everything will be very okay. Sesak dada dan gelisah seakan hilang begitu saja, tergantikan dengan rasa lega yang luar biasa. Hei, lihat! Saya bukan orang tersial di dunia ini, karena sesungguhnya tidak ada orang yang sial. Semua orang mendapatkan apa yang diusahakan dan telah menjadi bagiannya. Nasib saya justru masih lebih baik dibanding orang lain di sekitar saya yang kehilangan harta benda, keluarga, bahkan jiwanya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Apa yang membuat saya galau tempo hari, juga ternyata bukan hal besar yang pantas membuat saya galau. Bahwa saya sudah melakukan yang terbaik itu mungkin benar, bahwa sudah banyak yang saya korbankan, itu juga benar, namun jika setiap kesulitan bermuara pada IKHLAS, maka biarlah Dia yang mengganti semuanya dengan sesuatu yang lebih baik, insya Allah.
Apa yang membuat saya galau tempo hari, juga ternyata bukan hal besar yang pantas membuat saya galau. Bahwa saya sudah melakukan yang terbaik itu mungkin benar, bahwa sudah banyak yang saya korbankan, itu juga benar, namun jika setiap kesulitan bermuara pada IKHLAS, maka biarlah Dia yang mengganti semuanya dengan sesuatu yang lebih baik, insya Allah.
Kalau kata Babe, SUCI 3, "Aaah, sudahlah!" :))
*beautifulskyisunreplaced*
Monday, June 3, 2013
Million Miles Start From One Step
Well, from the title you will guess what I will write about. It's about my dream of travelling around the world. I know, it may sound too much for me with my paycheck month by month. Can I? Hey, It's my dream! No one can prevent me from having it.
Okay, here we go. These are places or countries I want to go and what things I wanna do if I were there.
Okay, here we go. These are places or countries I want to go and what things I wanna do if I were there.
- Mecca. It's obvious that every Muslim's dream to go there and do the worship. According to me, it's a kind of travelling and worshipping in one time. Worship in best way, travel to religious places to make me closer to The Creator, Allah The Almighty.
- Japan. I have a thing for this country from my younger years and still have it until now. I often dream of sitting under sakura trees and doing hanami, living in a small cozy apartment, walking down the neat and clean street, wearing thick coat in winter and playing snow. Speaking the language too, of course.
- Bali. I went there last year and impressed with the atmosphere of how people treat others in friendly and warm way. People manage the tourism object very well so I can't mention any complains except for the souvenir store. I like doing the water sport also with many options. One day I will go there once more and try the sea walker.
- Yogyakarta. I've been going here for so many times, but I can't help the sensation of this place. It's a nice place where people can go with minimum budget. You don't have to bring much money to go here. There are many places you can sleep, eat, and drink in cheap rate. All you have to do is bring compass with you, because local people will be very friendly to show you the way to go any place you want, but they will give you the direction using compass directions :)
- Europe. The country I would love to visit is almost all countries in Europe. Finland for the good education quality. Holland for the tulip flower. Skiing in Switzerland. Walking around the historical places in France, German, Spain, and Turkey.
Monday, November 12, 2012
Reminder
Even if I feel really sleepy, can't move my head up.
Even if I have nothing to do or it's holiday.
Maybe the morn is too dark and cold.
I will try my best not too sleep after Shubuh.
Just remind me not to sleep after Shubuh!
Even if I have nothing to do or it's holiday.
Maybe the morn is too dark and cold.
I will try my best not too sleep after Shubuh.
Just remind me not to sleep after Shubuh!
#I did it again this morning after long time and it feels unwell until now!
Subscribe to:
Posts (Atom)

