Showing posts with label missing you. Show all posts
Showing posts with label missing you. Show all posts

Thursday, March 10, 2016

Life Begins At Forty

It's one of my friend's birthday. It's her forty this year. In my perspective, she has perfect forty birthday. Let me tell you, years ago, she told me her dream of having her own pharmacy. Now, she has a pharmacy all by her own. She funded, designed, and served it herself. She made an outstanding decision less than a year ago to resigned from her workplace then build her own. There are not many people who realize their dreams like her. Many people dare to dream, but don't dare to share the dreams. They're afraid of the obstacle and threat they might face. Who doesn't?

Another thing to complete her forty birthday, she went to Makkah to do umrah last month and went to Japan as her gift of freedom. That's my words, not hers.

This morning, I greet her and she (again) opened my eyes that the number of age is just a number nothing else. It's a symbol that we have been living so (or too) long until the number achieved. It's a symbol that all dreams and wills passed by. Some are achieved and some are not. Hopes still are hanging around, I believe. Anyway, it's just a number. Nothing should be compare about. Some important things for us, maybe aren't at all to others and vice versa. Life is not a race.

Tuesday, March 8, 2016

It's Not Always What It May Seem

This morning, the rain came again, after maybe a week without. Miss it? Surely do. You always get the feeling that it will come again and wet the land. Since it didn't come for so long - for me, a week is so long for longing something (or someone?). You thought it wouldn't come again for a year or so, but then it comes suddenly. Without any notice and it makes you happy, as always. It blew away all my longing feeling.

In some cases in life, no matter how hard trying to make yourself busy, it still needs much effort to getaway from things you actually miss but for some best reasons, you have to leave. When the phone rang and the messages came, it would be like thousands of tons of power forcing you to answer or reply. Still, those best reasons win and they suppose to win the battle. So, collecting those reasons is something you have to work on when you committed for a getaway.

Saturday, January 23, 2016

Antara Pilihan dan Takdir (2)

Pilihan lainnya adalah cinta. Halah, berat amat ngomongin cinta! Oke, jangan ditimpukin dulu. Baca dulu, kalo ternyata ecek-ecek nyebelin, boleh lah timpuk saya. Pakai lembaran kertas yang ada gambar I Gusti Ngurah Rai atau para proklamator ya.

Sebagai pembuka, saya hendak mengutip kata-kata Mbah Sujiwo Tejo,
"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa."

Menurut saya, baik mencintai atau menikah, keduanya adalah pilihan yang kemudian menjadi takdir. Jangan bilang gini, "Emang udah takdirnya saya punya suami atau istri yang begini begitu, bla bla bla." Atau ada orang yang tidak setia dengan alasan mencintai orang lain atau bahkan tidak (lagi) mencintai pasangannya. Mencintai atau tidak, bukan alasan untuk tidak setia.

Takdir itu pada hakikatnya adalah buah dari keputusan atas pilihan-pilihan kita. Begitu pula dalam urusan cinta. Bisa nggak kita berencana kejatuhan cinta? Mungkin nggak, seperti kata banyak orang dan yang sering juga kita saksikan di banyak film, baca dalam cerita novel, atau alami sendiri. Cinta itu datang tiba-tiba, mirip-mirip dengan jelangkung. Datang tak diundang, tapi repotnya, perginya si cinta ini sering kali bahkan sudah diantar, diusir, tetap nggak mau pergi juga, malah semakin lekat di ingatan. Eh, curcol, maap!

Peristiwa kejatuhan cinta atau biasa disebut jatuh cinta, mungkin memang tidak bisa direncanakan, namun pilihan untuk tetap membersamai cinta itu atau meninggalkannya, itu adalah pilihan. Apalagi jika cinta itu terlihat rumit dan tidak jelas arahnya, serba kabur. Maka lupakanlah, itu bukan cinta sejati.

Melupakan cinta, itu perkara lain. Teorinya, jika tidak jelas, rumit lalu lupakan. Praktiknya, tentu tidak semudah itu. Ingatan itu unik. Semakin berusaha dilupakan, maka semakin lincah dia bermain-main di memori. Paling mungkin, alihkan ke ingatan lain atau sekalian eksplorasi menjadi novel, puisi, lagu atau apalah yang berbuah keuntungan. Bagi saya, hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, tinggal perkara mau atau tidak. Nah, memilih mau atau tidak, itu hak prerogatif. Perkara kemudian ada banyak faktor yang membuat proses move on itu tidak mudah, ya kembali pada keputusan untuk mau atau tidak. Sekali bergerak maju, tidak boleh sering-sering melihat ke belakang. Perasaan dan ingatan itu kadang menipu dan melenakan.

Thursday, December 10, 2015

Sometimes, It's Just Not Enough

The sun shines brightly today, since the very morning when I walked to work. I can't even widely open my eyes. It's too bright. Actually, it wasn't too bright. I just wasn't ready for the usual normal sunshine. I was still expecting sun shines in a cloudy sky. I mean, it's supposed to be still in rainy season, isn't it? I still need extra time to enjoy walking in the rain and memorize things I did when I was a kid. Walking, running, playing in the rain. What a nice moments to remember and always playing around my mind every time rain comes. For some people, rain speaks about romantic, sad memories in the same time. For me, rain speaks about LIFE! 

I wasn't ready to face that rainy season is over today. No! It has to be still in rainy time. It's still December. December has to be wet of rain. Never miss rain until this year which is poor of rain.

Something whispered in my ear that I'm not ready to let rain go, because I haven't spent my time for enough walking, running, or playing in the rain. Not enough for being wet and drown in the memories of rain.

Therefore, sometimes we are not ready to let some people go on their own life, because we haven't feel it's enough to spend precious time or emotion with them. When that happen, the only thing we can do is letting go. Just let go and we'll feel the best freedom. Seriously. I did.

Thursday, November 26, 2015

Hujan

Siang ini Serang tidak sepanas biasanya. Sudah mulai masuk musim hujan mungkin. Mendung.

Kata teman saya, "Sudah bisa nyanyi November Rain ya?"
Saya bilang, "Boleh aja, tapi disini rainnya masih malu-malu. Mungkin disini nanti lagunya ganti judul dulu jadi December Rain."

Sejak kecil saya selalu suka hujan. Sering sembunyi-sembunyi main hujan. Pulang ke rumah mindik-mindik, kuatir dimarahi karena hujan-hujanan. Suka juga ketika pulang sekolah dan hari hujan. Sengaja lewat jalan terjauh untuk sampai ke rumah, 'melupakan' payung di dalam tas yang telah dengan susah payah dibelikan ibu. Lain lagi kalau berangkat sekolah dengan bersepeda. Itu lebih menyenangkan lagi. Nggak mungkin kan bersepeda sambil memegang payung? 
Bersenda gurau dengan teman-teman yang juga 'melupakan' jemputan becaknya. Ikut berjalan kaki hingga di tengah perjalanan baru naik becak dengan pakaian, sepatu, dan tas basah kuyup. Entah seperti apa rupa buku-buku di dalam tas. Tertawa-tawa sambil saling meledek. Masih enggan pulang karena betah bermain hujan.

Bagi saya, main hujan di waktu kecil itu menyenangkan karena ketika sampai rumah, sudah tersedia secangkir minuman hangat. Bisa susu coklat atau teh manis buatan ibu. Jika pulang sekolah hujan dan itu hari Sabtu, maka yang terjadi justru sebaliknya. Saya memilih tidak buru-buru pulang. Menunggu bapak menjemput di depan sekolah sambil membawa payung. Walau tidak kehujanan, di rumah tetap menanti secangkir minuman hangat.

Akhir-akhir ini, hujan semakin jarang datang. Kata orang, alam sudah tidak bersahabat lagi dengan manusia. Mungkin yang terjadi adalah sebaliknya. Manusia yang semakin banyak jumlahnya, semakin hobi pula menyulut kerusuhan dengan alam.

Oh ya, ini kata teman saya yang lain. Hujan adalah satu persen kenangan dan sisanya yang 99% adalah mi rebus ditambah telur dan cabe rawit.

Cheers!

Wednesday, October 21, 2015

Mendaki, Menemukan Jati Diri


Saya menyukai kegiatan yang menguras energi (energi ya, bukan emosi) dan menantang. Kegiatan yang juga sekaligus detoksifikasi diri saya dari kejenuhan maupun dalam arti sesungguhnya, mengeluarkan racun-racun dalam tubuh lewat keringat. Salah satu kegiatan yang saya suka adalah mendaki gunung, di samping bersepeda dan lari pagi.

Selama ini, ketika membaca tulisan orang tentang pengalaman mereka mendaki gunung, saya terkesima dengan betapa hebat perjuangan mereka untuk menuju puncak. Ketika saya melakukan perjalanan itu sendiri, saya memahami bahwa puncak bukanlah segalanya. Memang rasa bahagia ketika berhasil menggapai puncak adalah perasaan yang tidak terukur. Banyak sekali pengorbanan yang harus dilalui di samping indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh-Nya. Menggendong tas carrier berisi segala macam keperluan, melawan rasa lelah, menyambung napas yang tersengal, menghadapi karakter teman sesama pendaki yang beraneka rupa, mengatasi udara dingin apalagi ketika hujan, sungguh bukan hal yang mudah. Ketika dengan segala tantangan itu, lalu kita memutuskan tetap bertahan hingga mencapai puncak, maka sesungguhnya yang berhasil ditaklukkan adalah diri sendiri. Pun, ketika tidak lagi melanjutkan pendakian dan memutuskan kembali turun, bukan berarti gagal. Bisa jadi itu adalah upaya mengalahkan ego diri. Ego bahwa setiap pendakian harus diwarnai dengan menikmati pemandangan di puncak.

Seperti kata hampir semua teman saya, dalam setiap pendakian, bukan puncak yang ditaklukkan. Pokok pelajaran dalam pendakian atau perjalanan yang kita lakukan adalah bagaimana menemukan diri sendiri. Jika dalam keseharian, kita sering lupa melihat ke dalam diri kita, maka alam melalui perjalanan yang akan membantu menemukan jati diri kita. Maka, lakukanlah pendakian untuk mengukur diri, bukan hanya kekuatan fisik, namun juga kekuatan batin.

Sunday, October 11, 2015

Nice Friends, Nice Chat, Wonderful Life

Pagi ini, setelah menyelesaikan tugas Cinderella saya membersihkan rumah, barulah saya aktifkan telepon genggam. Pada multichat BBM, terpampang foto seorang teman kuliah yang baru saja memasuki babak baru kehidupannya sebagai seorang abdi negara. Terlihat ceria. Senang melihatnya.
Ternyata, selama handphone saya "tertidur", sudah tercipta perbincangan antara dua orang teman saya, Kriuk! dan Coldy. Lalu selama sekitar satu jam, terjadilah multichat yang sebenarnya tidak bermutu namun menyenangkan itu. Kami bertukar kabar, bertukar pikiran, bertukar tips, serta bertukar lelucon. Hingga sampailah pada percakapan yang menyangkut status kami sebagai jombloers. Inilah bagian yang paling seru, mengingat di antara teman-teman kampus yang satu aktivitas di DKM, tinggal kami bertigalah yang masih melajang. Bukan betah, tapi addicted. Ini versi saya. Entah versi kedua teman saya itu. Bersama teman yang asyik, perbincangan yang sebenarnya tragis, menjadi ceria penuh tawa.


A friend in need is a friend indeed. 

Monday, September 7, 2015

Menunggu itu Berjuta Rasanya

Menunggu itu berjuta rasanya. Sungguh!
Ditambah lagi jika hal yang ditunggu itu tidak jelas kapan datangnya. 

Kali ini saya harus menunggu selama lebih dari lima bulan. Kalau mengikuti kata hati, jelas menunggu itu adalah hal yang menyebalkan. Fase menunggu dan galau saya kali ini, sungguh mengerikan. Saya jadi nggak gajian, yang berarti saya mengalami bokek kronis. Kalau biasanya dengan rutinitas harian, saya masih bisalah, dengan optimis merencanakan jalan-jalan, kali ini sungguh, untuk mengganti baterai jam tangan saja saya harus berpikir berulang-ulang. Terdengar lebay? Yoi! Penantian ini juga lebay buat saya *sigh*.

Well, bagaimanapun yang sudah terjadi tak usah disesali. Situasi ini juga adalah pilihan saya. Satu hari saya akan mengenang ini sambil senyum-senyum kok, insya Allah.

Syukurlah, saya termasuk orang yang kreatif kalau kepepet (oh! really?).
Inilah bukti pikiran kreatif saya: 
  • Saya berolahraga hampir setiap pagi dan tidur siang setiap siang, hahaha. Ini hal yang nggak bisa saya lakukan kalau saya bekerja.
  • Saya jadi teringat kalau saya punya tabungan unitlink yang bisa dicairkan kapan saja. Jadi, sudah tahu kelanjutannya, kan? 
  • Saya memulai usaha laundry kiloan yang sudah saya inginkan sejak lama, melirik banyaknya usaha sejenis yang tidak pernah sepi. Walau dengan modal seadanya dan tenaga sendiri. Judulnya, saya jadi direktur sekaligus pekerja di perusahaan laundry saya *ngakak guling-guling.
Sekarang sih, saya sudah mulai bekerja kembali, walau belum tahu apakah sudah akan berpenghasilan kembali juga. Kok bisa? Nanti saya ceritakan lagi ketika segalanya sudah jelas ya.

Inti dari tulisan (baca:curcol) saya kali ini adalah, menunggu itu menyebalkan, jika tidak ada yang bisa dikerjakan sambil menunggu. Dalam kasus saya, penantian saya menyebalkan karena saya dalam kondisi tidak berduit! Menyebalkan karena saya nggak bisa jalan-jalan dan senang-senang. Eh, saya sempat jalan-jalan juga sih, naik gunung dua kali. Itu di awal menanti, karena waktu itu saya nggak nyangka bakal harus menunggu sekian lama.
Saya masih dalam masa penantian sih, tapi saya belajar banyak dari proses ini. Belajar menghargai banyak hal dan memahami makna sabar serta melihat apa yang dimiliki, bukan apa yang diinginkan tapi belum ada. 

Wednesday, February 26, 2014

Don't Know Who Can I Share These Views With

Since I've been so long of the friendship we have.
I also couldn't find anyone like you here. Not even close to.
Then I don't know with whom I can share these views and moreover the feeling of being there.
It tasted different when I was singing without you.
The memory about you can't be replaced even if it's already past for years.

These are the views that reminds me of you, my coldy friend :)
Hope all is well with your life there.