Showing posts with label kebaikan tak terhingga. Show all posts
Showing posts with label kebaikan tak terhingga. Show all posts

Tuesday, August 14, 2018

Welcome, Dear...

Menjelang persalinan waktu itu, entah apa yang terjadi tapi tubuh saya semakin banyak keluhan. Dari awal kehamilan dengan mual muntah yang cukup menyiksa. Makan sedikit, keluar lagi. Jangankan minum susu untuk ibu hamil, makan dengan porsi yang biasa pun harus berjam-jam menghabiskannya dan dituntaskan dengan muntah. Begitu terus hingga sekitar 12 pekan. Nah, melewati masa itu, nafsu makan mulai kembali walau tetap diakhiri dengan muntah. Ya sudahlah, yang penting ada nutrisi masuk untuk Dudut. Walhasil, berat badan terus naik, walau tidak berkorelasi terlalu banyak pada berat badan bayi. Bayi saya termasuk imut, tapi masih dalam batas normal menurut hasil USG dan penjelasan bidan.
Menjelang pekan ke-37, berdasarkan rekomendasi dari bidan, saya memutuskan untuk cuti. Baiklah, ini anak pertama dan pada pekan-pekan ini saya bisa kapan saja melahirkan karena sesungguhnya bayi dalam kandungan sudah siap untuk dilahirkan. Ditambah lagi, keluhan kaki bengkak saya semakin menjadi disertai dengan rasa sakit yang sungguh mengganggu. Ini bukan sekedar urusan estetika karena saya hanya bisa memakai sandal gunung atau sandal jepit. Sepertinya mustahil saya ke kantor berjepit ria.
Tepat tanggal 28 Agustus, saya resmi cuti. Selama cuti, saya habiskan waktu dengan beberes rumah, cuci setrika, dan window online shopping . Ada cita-cita belajar masak tapi nggak kesampaian juga. Huh! Satu-satunya hal penting dan berkorelasi positif dengan kelancaran persalinan adalah mengunduh beberapa video senam untuk memperlancar persalinan daaan mempraktikkannya setiap pagi setelah beberes rumah. Satu hal yang saya rasakan ketika cuti adalah pikiran rileks dan sakit pinggang, kaki dsb hilang. Oh ya, saya juga jadi punya banyak waktu untuk membaca buku terkait persalinan. Buku yang sangat recommended menurut saya ada Persalinan Maryam. Membaca buku ini sungguh membuka pikiran saya untuk lebih rileks dan tidak mengkhawatirkan rasa sakit sebagaimana Bunda Maryam yang melalui proses ini seorang diri dan berserah sepenuhnya pada ketentuan Allah SWT.
Jadwal periksa ke bidan juga berubah menjadi satu kali/ pekan yang entah bagaimana menjadi rentang waktu yang sangat lama. Perjumpaan dengan Dudut meski hanya lewat layar USG adalah saat yang sangat dinanti.
Akhirnya, hari yang dinanti-nanti tiba juga. Setelah satu kali periksa kandungan setelah cuti, tepat pada hari Sabtu, tanggal 9 September 2017, saya merasa badan terutama perut tidak enak. Menurut beberapa teman, rasa ini serupa dengan sakit pre menstruasi, namun berhubung setiap haid saya tidak pernah merasakannya, maka saya pikir itu karena saya perlu istirahat. Berbaringlah saya seharian itu dan ketika akan sholat Maghrib, saya melihat gumpalan merah kecoklatan di cd. Panik. Untunglah suami saya menenangkan dan jurus browsing pun dikeluarkan. Ternyata itu adalah reaksi wajar menjelang persalinan karena mulut rahim mulai terbuka alias ada pembukaan. Malamnya saya masih bisa tidur nyenyak seperti biasa, namun sekitar jam 3 malam, perut bagian bawah terasa sakit walau tidak lama. Saya masih adem ayem di rumah karena sakit perut serupa tadi masih jarang dirasakan dan sakitnya pun masih bisa ditolerir. Saya masih bisa melakukan banyak hal seperti biasa. Begitu terus hingga siang, ketika ibu dan mas datang untuk mengantar saya cek ke Klinik Jannah.
Di klinik, saya diperiksa oleh seorang bidan muda dan beliau menyatakan bahwa saya baru pembukaan dua sempit. Saya disarankan pulang karena kemungkinan besar, waktu melahirkan masih lama. Bisa sekitar dua hari lagi.
Datanglah hari Senin, suami berangkat kerja seperti biasa walau rasa sakit mulai semakin sering tapi hanya sebentar dan masih sangat bisa ditolerir. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa bahkan senam hamil pun masih saya lakukan dengan harapan bisa segera melahirkan. Jeda dan rentang waktu mules, saya hitung dengan aplikasi babybump dan hasilnya masih aman. Sekitar jam 10 ibu datang ke rumah dan suami saya minta pulang untuk mengantar ke klinik. Setelah makan siang, kami berangkat ke klinik. Hampir sama dengan sebelumnya, baru bukaan tiga. Saya diminta pulang lagi. Well, sebagai orang yang belum pernah melahirkan, saya menurut saja walau ternyata ada teman saya yang heran dengan instruksi itu. Biasanya setelah bukaan tiga, meningkat ke bukaan selanjutnya akan lebih cepat. Benar saja, menjelang sholat Maghrib, mules semakin terasa dengan jeda yang semakin dekat.

Setelah sholat Maghrib, dengan menahan mules dan ngeden yang subhanallah luar biasah, berangkatlah kami ke klinik. Rencana melahirkan di klinik tempat kami biasa periksa buyar! Karena Dudut sepertinya sudah tidak sabar untuk keluar. Begitu turun mobil, saya merasakan ada sesuatu pecah di perut. Dugaan saya itu adalah ketuban karena diikuti dengan keluarnya cairan. Pelan-pelan jalan masuk klinik. Setelah periksa tensi dan denyut jantung bayi, alhamdulillah bidan favorit saya sedang praktik hari pertama di klinik tersebut. Mood booster banget yaa. Kepercayaan diri saya untuk melahirkan naik seratus persen! Berikutnya, instruksi yang saya tunggu-tunggu. Bidan periksa bukaan dan beliau bilang, "Kalo kerasa mau ngeden, ngeden aja ya, Neng." Beuh, akhirnya, ngeden lah saya sekuat tenaga dan lahirlah anak kami yang pertama dengan normal dan sempurna. Alhamdulillah...sungguh tidak ada kata yang bisa menggambarkan bahagia dan leganya.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yunin waj'alna lil muttaqina imaaman 

Thursday, February 16, 2017

Beginilah Kami Mempersiapkannya

Sekedar berbagi mengenai persiapan pernikahan tanggal 4 September tahun lalu. Kami tidak melalui proses yang namanya pacaran, walau kami bekerja di gedung yang sama. Namun kami memutuskan untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan pernikahan by ourselves. Mulai dari cari-cari tempat, vendor katering, vendor dekorasi dsb. 

1. Tempat. 

Berhubung kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan tidak di rumah saya sebagai mempelai wanita karena satu dan lain hal karena memang sih dari dulu juga saya bercita-cita tidak melangsungkan akad apalagi resepsi di rumah karena terbayang repotnya bahkan hingga setelah acara berlangsung. Maka, mulailah saya hunting tempat di Cilegon yang diperkirakan masuk budget kami dan hasilnyaaa...semua penuh! Sepertinya saat itu memang musim menikah. Bahkan ada yang hingga pertengahan tahun depan. Beralihlah kami ke kota sebelah, Serangyang mana merupakan kota tempat kami bekerja. Tujuan utama adalah sebuah aula Masjid Baitush Sholihin di Jalan Bhayangkara dan alhamdulillah, pada waktu yang diinginkan tempat tersebut tersedia. Lega. Satu bisul pecah!

2. Dekorasi dsb.

Berikutnya, cari-cari dekorasi yang berkorelasi dengan kostum, make up dan sebagainya. Adik ipar menawarkan temannya yang sebenarnya sih sudah dengan harga yang bagus, tapi berhubung ada yang menawarkan dengan harga yang lebih murah, maka pakailah yang terakhir. Pertimbangannya, dekorasi bukanlah hal yang vital. Lebih baik menghabiskan lebih banyak dana untuk katering dan makanan lain. Pilihan yang pada akhirnya tidak kami sesali walau sejujurnya, saya kurang puas dengan vendor dekorasi ini karena di tengah-tengah menjelang hari-H, banyak inkonsistensi. Beberapa item yang telah disepakati di awal kemudian dikurangi. Kecewa sih tapi mau bagaimana lagi, uang muka sudah disetorkan dan saya sudah terlanjur ga enak sama teman yang menghubungkan. Ya sudah, lanjut walau dengan perasaan kurang sreg. 

3. Katering

Bagian ini yang paling memuaskan. Kami menggunakan jasa Prima Catering. Ini ternyata adalah kateringnya Dharma Wanita RS. Krakatau Medika. Mas marketingnya ramah dan informatif. Sejak awal saya hubungi via WhatsApp, beliau selalu bersegera membalas dan menjawab lebih dari yang saya butuhkan. Pokoknya kesan pertama begitu meyakinkan deh. Harga yang ditawarkan juga pas ga mahal-mahal. Setelah saya komunikasikan dengan calon (waktu itu), beliau pun ga keberatan. Apalagi, si mas marketing juga menawarkan kalau sebagian pembayaran bisa dilakukan setelah acara. Mengenai lokasi, pihak katering juga tidak berkeberatan untuk mengantar ke Serang. Alhamdulillah. Ketika menjelang pernikahan, dekorasi katering ini juga cantik dan lebih cepat selesai dibanding dekorasi utamanya. Pendek kata, pelayanan katering ini sangat memuaskan. Saya masih nyimpan kontak si mas marketing kalau-kalau ada yang butuh.

4. Souvenir

Ini printilan yang mau ga mau harus ada. Saya cari souvenir ini di Tokopedia dan hasilnya banyak sekali pilihan. Barangnya lucu-lucu, murah, dan menarik. Kami memutuskan menyiapkan souvenir berupa kipas kertas dan sedikit sisa souvenir dari pengajian di rumah berupa taplak meja plastik. Ini hanya semacam formalitas sebenarnya tapi lega aja ketika semua hal telah siap.

5. Undangan

Saya ga terlalu banyak campur tangan urusan ini. Kami memesan di salah satu teman yang memiliki percetakan. Setelah beberapa kali revisi, menjelang hari-H, jadilah surat undangan dan siap sebar.

6. KUA

Pernikahan kami dilangsungkan di Serang, maka kami berdua statusnya numpang nikah. Saya agak lupa, apa saja yang dibutuhkan untuk mengurus surat numpang nikah, tapi alurnya saya ke Pak RT atau perwakilannya untuk mengurus surat pengantar. Disini saya ga pake berkas sama sekali. Bawa diri aja, apalagi perwakilan RT waktu itu adalah orang tua murid saya. Malam itu juga, surat pengantar langsung jadi dan besoknya saya bawa ke kantor Kelurahan untuk dibuatkan pernyataaan bahwa saya adalah warga kelurahan tersebut dan masih perawan (ihiy!) alias belum pernah menikah. Gratis! Berkas yang saya bawa, surat pengantar dari RT, fotokopi KTP, KK, dan foto kalo ga salah. Nah, dari sini saya lanjut ke KUA. Karena sudah siang, pejabat yang menandatangani sudah pulang, jadi saya mesti kembali besoknya. Hari esoknya, ketika saya kembali, surat sudah jadi, tapi saya mesti menunggu kepala KUA untuk diajak "ngobrol". Singkat cerita, beres aja ya. Tinggal ngurus surat nikah di KUA tempat nikah. Ini mah urusan calon saya.

Begitulah pengalaman saya dalam mempersiapkan pernikahan kami yang mudah-mudahan sekali seumur hidup. Semoga bermanfaat terutama untuk yang akan melangsungkan pernikahan di sekitar kota saya.

Tuesday, January 10, 2017

I always wonder about the power of love. True love.
Aku pernah membaca sebuah pernyataan. Kalau tidak salah, dari Anis Matta. Beliau menulis bahwa hadiah terbaik bagi dua orang yang saling mencintai adalah pernikahan. Walau tak selalu ada cinta untuk berujung pada pernikahan. Cinta akan datang setelah ikatan yang menggetarkan langit itu disahkan antara dua insan yang meniatkan untuk saling setia, bersabar, dan memahami.

Bagiku, pernikahan adalah berarti menemukan jiwa lain untuk berbagi dan memahami. Disanalah perasaan nyaman itu didapat. Maka tidaklah heran ketika ada pasangan yang terlihat selalu bahagia meski tidak bergelimang harta seperti sebagian pasangan yang lainnya. Namun sungguh, persepsiku tidak selalu benar. Ada saja aku temukan pasangan yang tetap bertahan meski keseharian mereka berbumbu ketidaknyamanan.

Ketika aku belum menikah, aku selalu berpikir bahwa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan jika salah satu sudah berani menyakiti dengan sengaja, terutama secara fisik. Bahkan dalam Islam, ketika suami sudah melontarkan kata "cerai", maka jatuhlah talak. Konon karena pria adalah makhluk yang logikanya lebih hebat dibanding wanita, walau pada berbagai kasus, tidak selalu begitu.

Sekarang, ketika aku sudah menikah walau baru, aku semakin tidak mengerti apa yang dipertahankan oleh pasangan yang sesungguhnya kebersamaan mereka bukan saling menenangkan namun justru meresahkan. Jika memang suami tidak lagi bisa mencintai istri dan (mungkin) anak-anaknya, serta tak mampu lagi menjadi imam terbaik, mengapa hal itu hanya sekedar terlontar di bibir? Bukankah setiap orang berhak bahagia?


Thursday, March 10, 2016

Life Begins At Forty

It's one of my friend's birthday. It's her forty this year. In my perspective, she has perfect forty birthday. Let me tell you, years ago, she told me her dream of having her own pharmacy. Now, she has a pharmacy all by her own. She funded, designed, and served it herself. She made an outstanding decision less than a year ago to resigned from her workplace then build her own. There are not many people who realize their dreams like her. Many people dare to dream, but don't dare to share the dreams. They're afraid of the obstacle and threat they might face. Who doesn't?

Another thing to complete her forty birthday, she went to Makkah to do umrah last month and went to Japan as her gift of freedom. That's my words, not hers.

This morning, I greet her and she (again) opened my eyes that the number of age is just a number nothing else. It's a symbol that we have been living so (or too) long until the number achieved. It's a symbol that all dreams and wills passed by. Some are achieved and some are not. Hopes still are hanging around, I believe. Anyway, it's just a number. Nothing should be compare about. Some important things for us, maybe aren't at all to others and vice versa. Life is not a race.

Friday, January 22, 2016

Antara Pilihan dan Takdir

Manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya. Klise ya? Semua orang juga tahu itu. Lah, emang saya juga nggak sedang berusaha membuat teori baru dalam kehidupan kok, haha. Siapa diri kita, bagaimana hidup kita, itu adalah hasil dari banyak pilihan yang telah kita buat. Sekolah yang kita pilih, jurusan kuliah yang kita atau orang sekitar kita pilihkan untuk kita, pekerjaan yang kita jalani sekarang, bahkan kepribadian kita, itu pun hasil dari pilihan kita. Hal sederhana seperti datang jam berapa kita ke tempat kerja atau ke sekolah itu juga bentuk pilihan. Bagi sebagian orang, memilih berolahraga dan menjalani pola hidup sehat, itu pun pilihan. Adapun ketika kita sudah memilih untuk menjalani pola hidup sehat dengan maksud supaya sehat tapi ternyata tetap sakit juga, itu adalah takdir. 

Saya membuka percakapan sederhana dengan seorang teman beberapa hari yang lalu tentang pilihan atau takdir ini. Dalam kehidupan yang relatif singkat ini, kita cenderung dihadapkan pada berbagai pilihan yang sering kali memusingkan kepala dan membuat galau. Pilihan kadang juga melibatkan orang lain tentu saja, terutama jika keputusan dari pilihan itu akan berpengaruh juga ke orang-orang terdekat kita. Let's say, sekolah. Kalau dipikir pendek, "Saya ini yang sekolah, saya  yang menjalani. Nanti yang jadi pinter atau tetap bodoh juga saya." Oke, pikiran kayak gitu ada benarnya, tapi nggak sepenuhnya benar. Pendidikan itu berpengaruh pada pekerjaan kita di masa depan. Kita sebagai orang Indonesia yang biasa-biasa saja secara ekonomi, tentu suatu saat akan harus mencari pekerjaan untuk mendukung hidup kita. Kalau pendidikan kita nggak memadai, tentu akan sulit mencari pekerjaan yang layak untuk hidup kita. Lain soal jika kita adalah orang yang lincah membuat jaringan dan membangun bisnis yang oke punya. Pendidikan jadi bukan masalah besar. Toh, kita bisa membiayai hidup kita dari bisnis yang menjanjikan, tapi kan nggak banyak orang yang seperti itu. Saya kenal beberapa orang yang menyesali pilihan mereka tentang pendidikan ini. Tidak ada jalan kembali, karena waktu yang sudah bergulir, tidak mungkin diputar kembali. Oh ya, dampak dari pilihan pendidikan ini banyak berpengaruh ternyata kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Gampangnya gini, kalau kita ternyata di masa depan tidak bisa membiayai diri sendiri secara layak, maka siapa yang akan direpotkan? Keluarga tentu, kan? Keluarga itu adalah lingkaran terdekat yang paling tidak bisa berdiam diri ketika sesuatu terjadi dalam hidup kita. Malah kadang, ketika kita senang, keluarga hanya bisa ikut berbahagia, namun tidak bisa merasakannya langsung. Sebaliknya, kesusahan kita sudah menjadi kesusahan bagi keluarga. 


Monday, November 30, 2015

Lumrah tapi (Ternyata) Salah

Anak kecil jaman sekarang beda ya, dengan anak kecil jaman kita kecil dulu? Anak sekarang itu lebih pecicilan dan cerewet. Ciri-ciri anak sehat katanya emang gitu. Senang bergerak dan melakukan hal-hal yang menarik buatnya. Ya lah, semua anak kan memang melihat dunia sebagai tempat mereka bermain. The world is a playground and everytime is also play time. Some of us as an adult also think the same way, do we? Hayo ngaku! Cuma bedanya, kita sebagai orang dewasa sudah terbentuk oleh norma-norma, pendidikan, persepsi, dan tanggung jawab sehingga keinginan untuk bermain itu tentu berkurang, sedikit demi sedikit. Namun jika keinginan itu "disentil" sedikit, maka jangan ditanya!

Nah, dalam proses bermain itu, pasti ada kan saatnya si anak udah dibilangin berkali-kali masih ngeyel, trus jatuh, terluka, nangis. Lalu biasanya (dari pengalaman dan pengamatan saya), orang tua di sekitarnya bereaksi kesal dan balik marah ke si anak itu. Saya ingat ketika di sekolah saya dulu, ada teman guru yang ngajak anaknya ke sekolah. Si anak ini perempuan, usia 2 tahunan, aktif seperti anak-anak lain seumurnya lah. Tiba saat ketika anaknya jatuh, terluka dan nangis. Ibunya sibuk marahin anaknya sambil teriak-teriak. Di saat yang sama, kami semua menoleh ke arah si ibu. Ada apakah? Kenapa heboh sangat?

Di saat yang sama, teman saya yang lain yang ada di dekatnya, berbalik menegur si ibu.
"Anaknya udah sakit itu badannya karena jatuh. Jangan dibikin sakit juga hatinya karena dimarahi." Bicaranya santai, tapi dalem.

It's a slap moment. Selama ini, saya pikir reaksi seperti itu adalah hal yang lumrah. Padahal sungguh hal itu menyakiti perasaan si anak. Dia mungkin suatu hari akan lupa dan mengabaikan "marahnya" si ibu tapi bentakan akan menetap di alam bawah sadarnya. Efeknya, bisa jadi dia malah jadi anak yang ignorance dan tidak bisa diingatkan kecuali dengan cara dibentak. Teman saya yang menegur tadi itu memang tidak pernah saya lihat menegur anaknya dengan cara yang keras, padahal saya lumayan sering berinteraksi dengan keluarganya. Walhasil, dua anaknya berperangai halus dan mudah diarahkan. Ini kisah nyata.

Saya punya empat keponakan yang super duper juga dan saya ingat terus kata-kata teman saya ini. Ketika para krucils berkunjung ke rumah yangtinya yang adalah ibu saya, saya berusaha untuk tidak menegur dengan keras apalagi ketika mereka sudah tersakiti sebelumnya meski akibat perbuatan mereka sendiri. Badan boleh sakit tapi toh akan segera pulih.

Wednesday, October 21, 2015

Mendaki, Menemukan Jati Diri


Saya menyukai kegiatan yang menguras energi (energi ya, bukan emosi) dan menantang. Kegiatan yang juga sekaligus detoksifikasi diri saya dari kejenuhan maupun dalam arti sesungguhnya, mengeluarkan racun-racun dalam tubuh lewat keringat. Salah satu kegiatan yang saya suka adalah mendaki gunung, di samping bersepeda dan lari pagi.

Selama ini, ketika membaca tulisan orang tentang pengalaman mereka mendaki gunung, saya terkesima dengan betapa hebat perjuangan mereka untuk menuju puncak. Ketika saya melakukan perjalanan itu sendiri, saya memahami bahwa puncak bukanlah segalanya. Memang rasa bahagia ketika berhasil menggapai puncak adalah perasaan yang tidak terukur. Banyak sekali pengorbanan yang harus dilalui di samping indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh-Nya. Menggendong tas carrier berisi segala macam keperluan, melawan rasa lelah, menyambung napas yang tersengal, menghadapi karakter teman sesama pendaki yang beraneka rupa, mengatasi udara dingin apalagi ketika hujan, sungguh bukan hal yang mudah. Ketika dengan segala tantangan itu, lalu kita memutuskan tetap bertahan hingga mencapai puncak, maka sesungguhnya yang berhasil ditaklukkan adalah diri sendiri. Pun, ketika tidak lagi melanjutkan pendakian dan memutuskan kembali turun, bukan berarti gagal. Bisa jadi itu adalah upaya mengalahkan ego diri. Ego bahwa setiap pendakian harus diwarnai dengan menikmati pemandangan di puncak.

Seperti kata hampir semua teman saya, dalam setiap pendakian, bukan puncak yang ditaklukkan. Pokok pelajaran dalam pendakian atau perjalanan yang kita lakukan adalah bagaimana menemukan diri sendiri. Jika dalam keseharian, kita sering lupa melihat ke dalam diri kita, maka alam melalui perjalanan yang akan membantu menemukan jati diri kita. Maka, lakukanlah pendakian untuk mengukur diri, bukan hanya kekuatan fisik, namun juga kekuatan batin.

Saturday, February 7, 2015

Second Day In The Sunrise of Java

Eventhough we have to delay our bath time, the first day was excellent. The policemen stop us to uncertain reason, but excelent is excellent.

So, the second day was like, something we couldn't wait to do. As we had in itinerary Mas Aner sent us, we would go to Green Bay or Teluk Hijau on second day. Before, we have surfed the internet and found some wonderful views of it. Okay, now let's explore another part of Negeri Blambangan.

On the way to Green Bay, still in the city, we met Maulud Carnaval, which known as Kembang Endhog. Banyuwangi is one of cultural city in Indonesia so they consider almost every occasion as a special time and have to be celebrated. Also for this one. The carnaval itself is about remembering the birth of our prophet, Muhammad SAW. Actually, there's no guidance in Islam about this, but as long as it's good and the aim is to remind us about the perfect man ever and his good role model, so it's fine I think. The trip to Green Bay took more than two hours because there were traffic jam as the effect of the carnaval though.
Kembang endhog carnaval
Green Bay
We saw beautiful scenery on the way to Green Bay. So different with what I usually see daily. It was mountain, dragon fruit farm, sea, smooth road. It was so refreshing.

To meet The Green Bay, we had to walk for about an hour with slippery up and down track. On the side of the track, there is big rope as a safety equipment but then it became scary too because of a man held it - I didn't know how - and he was swung around to the edge of the track. *breath taking moment*

As a compliment after walking like years, we met Pantai Batu or Rocky Beach. It was a beach covered with rocks. Based on our guide's story, before the beach was just like other beach with sand but after the 1994 tsunami until now, it covers by rocks. People believe, the rocks came from under the sea. Astonishing, Masya Allah.


Pantai Batu

Don't try this at home :D
We knew that it's not the end of the journey, the Green Bay was still hiding behind the big coral about 400 meters from the beach. Okay, let's move! The track wasn't too hard anymore and finally, here we are in Green Bay! Two big coral, face to face with green water between them.  


Green Bay
The water was cool and fresh. Can't hardly wait to be wet. Not so long here, because we have another place to go to. We were heading to Red Island or Pulau Merah to enjoy sunset there. But before, we need to go back to the start point. We could go back on foot, like we did before or by small boat and we choose the boat. A decision we would never regret so we have both experience.


and these were our happy expressions :D
Red Island
Actually, the perfect name to it is Red Island Beach. It's called Red Island because of the icon of small island nearby the beach which will be seen red if the sunshine perfectly to the island. The beach is unique. It's like an open curve. With beach woods surround it. Unfortunately, at the time we were there, we found so many garbage. So sad to see it. People still need to be encouraged to love the nature.

I'm so amazed with the cheap ticket to the beach, compare to beaches in Anyer.


Red Island in cloudy day
Eventhough it's cloudy and the island didn't turn red, but it's still beautiful indeed.

Hey, beautiful scene here is still in Indonesia!


Monday, February 2, 2015

It Started

All my bags were packed.
It was the last day of 2014. I tried to sleep early so I could wake early. Oops, before, I texted the tour provider confirming the payment already done using internet banking. It's all done. Alhamdulillah. 

Full of worry because tomorrow I had to leave early in the morning. New year firecrackers didn't let me to sleep. I thought it just me that too excited of facing the trip but then "Trip Banyuwangi" rang many times. My new friends had the same excitement or worry. Hahaha, worry of being late for the trip. Our plane would be at 9.10 in the morning. It meant I, Bulek, and Bu Uroh had to went away at least at 5 a.m and must be ready before it.

Journey isn’t always about finding adventurous beautiful places to go to or unfamiliar faces we’ll see. Sometimes it’s all about finding me and my limitations in life. Unlike the previous trips, this one is different. I find who I am in this trip. Not all of me of course. I know some of me before and always. The trip starts in the beginning of the year, but actually the journey starts long before. It’s a simple manifestation of our (I and Mba Puji’s) yearn for walking through the woods and mountains.
Sure, journey usually is about simple thought we have in mind. So, beware. *wink*
So, this is our journey to know ourselves better. We choose Sunrise of Java, Banyuwangi. The reasons are it’s far enough to go to! Of course not! We will pick somewhere nearer if there is any. The true reasons are, Banyuwangi has three national parks which for us, it’s fantastic! Indonesia has fifty national parks and we’ve been to three of them, hehe. It’s quite excited for ex forestry students like us who don’t do any forestry jobs formally. She told me that people will find themselves in a journey with strangers.

So, the journey started...

Ijen Crater
It’s a sensational place to hike. It has blue fire, one from two in the world only. Here, in Ijen Crater and another in Iceland.
The journey to meet the crater isn’t easy. I have to admit that. I walked through the night in about 3 hours. In slow pace.
I met myself in the mist, in the aroma of sulphur, and surely do in the journey to the peak of the mountain also it’s so very amazing to pray there. The mountain itself only 2.386 meters height or about 3 kilometers to walk through, but for fake hiker like us it feels like forever. I found how small I am and how beautiful Allah created everything in the almighty. We didn’t see sunrise or the blue fire there, but it’s always relieving to realize that we can always get what we want as long as we try little harder, pray more often, and also save more money, haha.
Tosca green crater

In the end, it’s not only about, “Hey, I’m strong enough to be here!”
It’s all about, “Ya Allah, I’m nothing to what You have. Please forgive my arrogance.” *glassy eyes*

People were so tiny

Mount Raung far beyond

On the way to Baluran, we had lunch with local culinary, Pecel Pitik at Watu Dodol Beach. Free of charge.

Watu Dodol Beach

Baluran National Park
This is the first national park in this trip (and in my life) we’ll visit. The national park is an icon of Africa of Java. It’s because of the savanna. In the hot season, the savanna will be in perfect light brown, but that day, it’s nice. In a glance, I was thinking that I don’t need perfect savanna, nice is better. We saw some primates there, lonely tree in Bekol Savanna. The weather was fine, no rain but it's not hot either. The green browny grass still charming. They welcome us with impression that lasts forever.

One of the smart primates
Welcome to Baluran National Park!


Jump to the sky!
Hello, this is us in the charming Bekol!

The national park has a beach called, Bama Beach. It has mangrove forest. It’s nice and perfect. I felt like the time reversed by the time I saw mangrove spread along another beach beautifully long ago. The feeling still the same. Love them!

Hidden beach in Bama
Hey, it's in Indonesia! There are still so many beautiful places here.




Thursday, September 19, 2013

Apa yang disebut-sebut itu memang benar...

Baca kalimat ini:
"Jika mampu mengikhlaskan, maka sesungguhnya itu adalah kebahagiaan sebenarnya."

Walaupun sering kali saya mendengar bahwa keikhlasan adalah hal terpenting dalam setiap aktivitas, namun baru kali ini saya mengalaminya sendiri. Sulit memang, tapi ketika hati ini sampai pada tahap mengikhlaskan, then everything will be very okay. Sesak dada dan gelisah seakan hilang begitu saja, tergantikan dengan rasa lega yang luar biasa. Hei, lihat! Saya bukan orang tersial di dunia ini, karena sesungguhnya tidak ada orang yang sial. Semua orang mendapatkan apa yang diusahakan dan telah menjadi bagiannya. Nasib saya justru masih lebih baik dibanding orang lain di sekitar saya yang kehilangan harta benda, keluarga, bahkan jiwanya dengan cara yang tidak disangka-sangka. 

Apa yang membuat saya galau tempo hari, juga ternyata bukan hal besar yang pantas membuat saya galau. Bahwa saya sudah melakukan yang terbaik itu mungkin benar, bahwa sudah banyak yang saya korbankan, itu juga benar, namun jika setiap kesulitan bermuara  pada IKHLAS, maka biarlah Dia yang mengganti semuanya dengan sesuatu yang lebih baik, insya Allah.

Kalau kata Babe, SUCI 3, "Aaah, sudahlah!" :))

*beautifulskyisunreplaced*

Sunday, November 4, 2012

Glad To Watch It!

Anyway, I'm back with new connection of the net. The previous was terrible. No need to explain, shortly, I need something better and found it!

Last two days, I've watched TV talkshow with guest star, Ferrasta "Pepeng" Subardi. Yup! He is the person that for me easy to be admired. He said something that made me open my eyes wider and clearer. 

Tell me, what is the difference between being hurts and being suffer? He said, we can be hurt, but being suffer or not, it's depend on us. It's our choice. If we focus on the pain then we will cause our own suffer, but if we focus on other things, asking for forgiveness for example, then the suffer will never come.

In life, sometimes I just can't hide the bad feelings of sad, hurts, but at least we still have a choice to be suffered or not. The choice is mine.

Have a beautiful life!!!

Tuesday, May 15, 2012

I'll Never Know

In life, it's always about courage.
No matter how difficult or simple it is. It's only about it.
Many stories convey it. Now and then, I consider it will never change.




Dare to taste some new delicacies eventhough it tastes real bad.
Dare to jump even when it causes us fall down to the ground and hurts.
Dare to win, also dare to lose.
Dare to have big dreams and chase them with all efforts.


All and all, to be dare is our reason to stay alive for me.
Eventhough, I'm not always have the thing along with me all the time.


I'll never know until I try :).


Friday, April 13, 2012

Grateful

Hearing about earthquake and prediction of tsunami in Aceh, I was thinking about how lucky I am living in this peaceful city. Since i was a little girl, I've never had any facing disaster experience. Not flood, earthquake, nothing. Even when almost all cities in this country dealing with annoyance riot during the reformation time. This city still quiet and silent.
It's not perfect actually. It can have more than 32 degree in Celcius in day time. We don't have adequate bus station, but still, He never put us in trouble naturally. Grateful...

Tuesday, February 14, 2012

Amazing Birthday

Actually, I'm not a kind of person who like to celebrate any special events, even if it is birthday. I never have any special plans to face my coming birthday. Usually, I have only simple plans to manage my life any better, more well-organized me, but the plans never has well ending, though *sigh.

Since I am not in my early youth, birthday is become common occasion happens every year, nothing more. Today, maybe really AMAZING BIRTHDAY for me. My lovely students surprised me with their extraordinary plans that absolutely made me speechless. Big thank you for my students. I love all of you!!

This was an unforgetable birthday.
What a nice birthday cake :)

Huge thanks to them, muaah
Alhamdulillah, it will never happen, if Allah stops loving me, even for awhile :)

Wednesday, January 11, 2012

Let's Eat!

Mari makan!
Semua orang suka makan, betul? Namun sebenarnya, sebagai agama yang syamil (sempurna), Islam mengatur tata cara makan agar makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh kita akan membawa manfaat dan kebaikan.
  • duduklah dengan tenang dan tidak bersandar.
  • makanlah dengan diawali basmalah dan berdoa.
  • jika mengambil makanan, ambillah dari pinggir.
  • ambillah makanan yang terdekat supaya lebih mudah.
  • usahakan makan makanan yang bergizi baik, berjumlah cukup.
  • tidak berbicara ketika ada makanan di dalam mulut, supaya tidak tersedak.
Mungkin ada lagi yang lain berkaitan dengan makan, tentang bagaimana menyertakan seluruh makanan dengan zat gizi yang bervariasi. Misalnya, protein tidak dicampur dengan protein lainnya.
Baiklah, sekian postingan ini. Mudah-mudahan bermanfaat...:)
Sekarang, mari makan!

Saturday, January 7, 2012

Membuat SIM Kini Lebih Baik

Sesuai dengan slogan yang sering kali kita baca atau dengar,
'Anda puas, beritahukan pada saudara, keluarga teman, jika Anda tidak puas, maka beritahu kami,'
maka saya pun menulis dan membuat postingan ini. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi yang belum mantap hatinya untuk mengurus permohonan Surat Ijin Mengemudi alias SIM

Pagi tadi, saya berencana memperpanjang  SIM C saya yang bulan depan akan kadaluwarsa di Polres. Berdasarkan berbagai narasumber dan pengalaman saya membuat SIM sebelumnya, maka saya berangkat dari rumah sekitar jam setengah sembilan, supaya tidak kesiangan (gak penting ya, hehe). Sebagai info, untuk urusan per-SIM-an ini, hari Sabtu Polres buka hingga jam 12 siang. Berikut adalah proses untuk perpanjangan SIM :
  1. Pemeriksaan kesehatan. Menyerahkan fotokopi KTP dan SIM asli saya ke petugas klinik. Biaya Rp. 30.000 dan saya pun memperoleh surat keterangan sehat sebagai pengantar ke loket pendaftaran. 
  2. Kembali ke loket pendaftaran. Semua berkas (pengantar sehat, fotokopi KTP, dan SIM asli) yang diberikan petugas klinik diserahkan ke pak polisi petugas pendaftaran. Menunggu sebentar, nanti pak petugas akan memberikan map pendaftaran. Disini tidak membayar. 
  3. Di kantor BRI yang ada di lingkungan Polres, serahkan map yang diberikan di loket pendaftaran, tunggu dipanggil, barulah disini saya diminta membayar sebesar Rp. 75.000 ke kasir BRI.
  4. Berikutnya, saya mengisi formulir permohonan SIM yang sedari tadi sudah ada di dalam map.
  5. Setelah diisi, map beserta seluruh isinya diserahkan ke petugas di Ruang Foto SIM.
  6. Tunggu giliran foto dan ketika selesai difoto, dipersilakan menunggu lagi.
  7. Dipanggil petugas dan SIM baru diserahkan pada saya dengan wajah saya di SIM.
Bagi pemohon SIM baru, maka akan ada tes tulis dan praktik. Jika lulus, maka dilanjutkan dengan foto SIM. Bagaimana dengan yang belum lulus? Disinilah yang membuat saya benar-benar takjub! Uang yang dibayarkan sebelumnya, dapat ditarik kembali. Jadi tidak perlu khawatir akan rugi secara materi, ya kalau waktu sih udah pasti ya...
Oh ya, biaya untuk membuat SIM C baru adalah Rp. 100.000 dan selainnya Rp. 120.000.

Buat saya, ini adalah satu langkah menuju kebaikan yang dilakukan institusi kepolisian. Masih banyak PR yang menunggu tentunya.
Mari, kita sebagai warga negara membantu bapak-bapak polisi! Jika kita apatis, maka tentu tidak akan mengubah apapun, tapi jika kita peduli, setidaknya kita berbuat sesuatu untuk menolong diri kita sendiri. Harapan itu masih ada. Saya percaya, kamu juga kan?

Friday, November 11, 2011

General Election at School (part 2)

Today is the day. We vote for the candidate. Honestly, the student I chose didn't win, but the winner is also satisfying (at least for me :)). The winner who got the most vote is number eleven (11).

Briefly, my students were so excited having the election. They make a (chaos) line before getting the letter, but they did it happily.
The 12 parties.

Saturday, October 29, 2011

Planetarium and Fatahillah Museum

Last Wednesday, I had school visit to three places, they are Ministry of Foreign Affair, Fatahillah Museum, and Planetarium. I won't tell about the Ministry of Foreign Affair in detail, it isn't tourism object anyway, but here is our photo.

in the Ministry of Foreign Affair


About Planetarium, well I will tell little about it. In Planetarium, we have an hour show about universe, planets, sun, meteor, meteor shower and else. It's quite amusing since I have no idea when I will experience it by myself. I mean going out of the earth and see planets are going around the sun, so does the satellites to the planets. In a moment, I felt like I was in the daily night life, looking at the sky and the stars are amazing. You can find more info about it here.

Planetarium


If you like to go to the museum like I do then you will agree with me that Fatahillah Museum is really historic and quite well-organized for a museum in Indonesia. Fortunately, I was there with my students, so we had two nice and friendly guides with us. I went around with the girls, so you will see many cute girls here with me ;). Okay, let's start, the museum is located in the west part of Jakarta. It is very strategic, near to the Jakarta Kota train station and also many other museums, like Mandiri Museum, Ceramic Museum and Wayang Museum, also there is a West Jakarta's Post Office across with the same type of building with Fatahillah Museum, so it's like you go to one place and get more than one experience, isn't it good?

Post office across it

First look in the outside the museum, you will see that Fatahillah Museum which is also known as Jakarta History Museum or Batavia Museum, you will see an ancient Holland building with wide front yard. For me, it is awesome. It's the look of the museum.

Fatahillah Museum


Around the museum, there are many bicycle for rent, also with colonial style, ancient bike and tandem along with with ladies hat, so nice...:). Unfortunately, I was so tired, so that I didn't rent a bike like my students did. In this case, age talks a lot :)). Well then, it's better you go yourself to these places and enjoy!

Let's ride bike




with the nice guide and Hermes :)

Tuesday, October 4, 2011

The Power of Wish

We may say that we don't really believe in pray. Sometimes we just feel don't like to pray because of our pray with deeply heart isn't answered as we want. But today, one of my student prove that we have to be brave to pray for every business we have.

The story is about one of my nice first grader special needs student. He had been absent for around one week until I decided to visit him with his shadow teacher who is also my good friend on the last Friday. We visited him and tried to take him to school and he determined not to go. We're trying hard, but it was useless. He still refuse to go with us. We were wondering what has happened to him, since he was so very motivated to go to school before. I ask my friend about some probabilities, but we were still clueless. On the way to school, we say some wish. Wishing him to come back to school soon and be able to learn and play with his friends.

On Monday, he was still absent and we were still wondering if there any mistakes we made so that he feel insecure. Then, we wish he will back to school. This morning, the wish came true. He showed up in my class door step and smiled. No words can really describe my feeling. I was extremely happy. Our wish come to the reality. I'm sure it also because of the prayers of his parents. But anyway, it wakes me, that even if I don't wish seriously, the wishes could come true. So, there are no reason for me to stop wish and pray about all things in my life.

Wednesday, July 20, 2011

Marhaban Yaa Ramadhan

It will come again. The holy month every muslim expected. When I was in early elementary, I didn't really like Ramadhan. Since all I know in that month I can't eat nor drink in day time. I will feel hungry and thirsty and the thing that I hated the most is, I have to do Tarawih at night. Do you know, I like sleeping a lot and Tarawih made me so sleepy.

It's like when you are in a training camp for a competition. You can't do all things you want and enjoy. You have to follow the rules and it makes you tortured, but when you keep following the rules until the end and in the competition day you win. It's all because you've been trained in the camp perfectly and you follow it with all your heart.

Day by day, I learn about Ramadhan and I think this month is the most precious time in a year. Then, I made myself believe that I have to do my best in this month. I also keep myself believe that this month is the right time for me to be better :).

Allahumma baariklana fii rajaba wa sya'ban wa ballighna Ramadhan...

Dear Allah, give me blessings in Rajab (month) and Sya'ban (month) and take me to Ramadhan...